Connect with us

Metro

Milenial Askrindo Ikut Serta Program Relawan Bakti BUMN

Published

on

Jakarta – Dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-77, Program Relawan Bakti BUMN untuk Indonesia hadir sebagai persembahan BUMN untuk Indonesia.

Program yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN ini memberikan kesempatan bagi para pegawai BUMN dari seluruh Indonesia dan telah diselenggarakan di 6 (enam) lokasi yaitu Bakti BUMN untuk Karangasem di Bali, Bakti BUMN untuk Bunaken di Sulawesi Utara, Bakti BUMN untuk Badui di Banten, Bakti BUMN untuk Surakarta di Jawa Tengah, Bakti BUMN untuk Way Kambas di Lampung dan Bakti BUMN untuk Anambas di Kepulauan Riau melalui kolaborasi 15 BUMN dan Yayasan BUMN Untuk Indonesia.

Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan, program Relawan Bakti BUMN akan dilaksanakan pada 14 – 17 Agustus 2022 dengan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan langsung oleh para Relawan berupa kegiatan Edukasi dan Bantuan terkait Kesehatan dan Pendidikan untuk Siswa dan Masyarakat, Penanaman Pohon, Pengembangan UMKM hingga Pelestarian Budaya. Jumat (26/8/2022).

Setelah melalui seleksi yang ketat, sebanyak 77 Relawan terpilih dari 9.845 pendaftar yang berasal dari berbagai BUMN di seluruh Indonesia. Askrindo menjadi salah-satu BUMN yang juga turut serta ikut menjadi bagian dari Program Relawan Bakti BUMN di wilayah Karangasem, Bali dan Badui, Banten.

Ali Sahal, Milenial Askrindo yang merupakan Relawan Bakti BUMN di Badui, Banten, mengatakan bahwa masyarakat di daerah sangat senang mendapatkan pembelajaran baru salah satunya tentang kesehatan dan pelatihan kewirausahaan.

“Dengan melibatkan milenial, masyarakat Badui banyak belajar dan mendapatkan cara berjualan baru yang lebih. ini akan membantu perekonomian masyarakat Badui khususnya anak muda untuk mempromosikan produk-produk Badui. Selain membantu pelatihan kewirausahaan, kami juga sharing terkait pola hidup bersih dan juga menerapkan gizi seimbang. Pembelajaran dan pengetahuan ini sangat penting untuk meminimalkan gejala stunting di wilayah Badui,” jelas Ali Sahal.

Mohamad Aribowo, Milenial Askrindo yang merupakan Relawan Bakti BUMN di Karangasem, Bali mengatakan bahwa keikutsertaan pada program ini adalah kontribusi nyata yang harus dibangun pada diri kaum milenial masa kini.

Kegiatan Relawan Bakti BUMN di Karangasem, Bali sendiri yakni melakukan sharing knowledge terkait pemasaran digital di market place yang ditutup dengan kegiatan Upacara 17 Agustus bersama.

“Pentingnya kontribusi khususnya dalam memberikan sharing knowledge kepada UMKM di daerah, menjadikan pembelajaran sendiri dan juga tentunya sangat berguna untuk para UMKM di daerah agar bisa lebih maju lagi serta mampung bersaing di dunia pemasaran digital ini,” kata Aribowo.

Direktur Kepatuhan, SDm dan MR Askrindo, Kun Wahyu Wardhana, mengatakan rangkaian Program Relawan Bakti BUMN ini secara serentak dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat setempat.

“Keikutsertaan Milenial Askrindo menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaan dapat merayakan hari kemerdekaan dengan masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa sinergitas antara BUMN dan masyarakat harus terus terjalin erat,” ucap Kun.

Harapannya dengan terlibat langsung sebagai relawan Bakti BUMN, Askrindo dapat turut berkontribusi secara nyata untuk Indonesia melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BUMN. Semoga ke depannya Insan Askrindo yang lain juga dapat turut berkontribusi dengan mengikuti kegiatan Bakti BUMN ini.

Kun juga mengajak secara langsung insan Askrindo lainnya untuk sama-sama mengambil bagian dalam berkontribusi terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan di program-program.

Continue Reading

Metro

Terbukti Diminati Siswa Luar Daerah, Program ‘Live In’ Kulon Progo Layak Jadi Kebijakan Sekolah Lokal

Published

on

By

KULON PROGO – Keunggulan potensi wisata edukasi di Kabupaten Kulon Progo sebenarnya sudah tidak diragukan lagi, bahkan magnet wisata berbasis pemberdayaan masyarakat di bumi Binangun ini telah lama memikat dunia pendidikan dari luar daerah.

Melihat realita tersebut, Dewan Pakar Pirukunan Tuwanggana Kulon Progo yang juga aktif sebagai aktivis NGO, Priyo Santoso, S.H., M.H., mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dengan meminta Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan untuk bersinergi menelurkan kebijakan yang mengarahkan kegiatan luar sekolah siswa lokal ke destinasi wisata daerah sendiri.

Menurut Priyo, kegiatan seperti outing class, live in, perkemahan, atau sejenisnya akan jauh lebih optimal jika memaksimalkan potensi lokal karena selain efisien dari segi pembiayaan bagi wali murid, perputaran ekonominya akan langsung dirasakan oleh masyarakat Kulon Progo.

Potensi wisata di Kulon Progo sebenarnya tidak kalah dengan daerah lain, bahkan justru di sini suasananya jauh lebih alami dan mempesona, namun keunggulan ini memang memerlukan dukungan kebijakan yang kuat dari para pemangku kebijakan agar bisa dioptimalkan untuk edukasi siswa kita sendiri.

Priyo yang juga terjun langsung sebagai praktisi lapangan melalui Keren Kayu Homestay di Kalurahan Banaran membeberkan bukti nyata, di mana selama ini program live in atau tinggal bersama induk semang yang ia kelola justru sangat diminati dan menjadi langganan sekolah-sekolah dari luar Yogyakarta.

Siswa-siswa dari luar Jogja saja berbondong-bondong datang ke Banaran untuk melihat potensi lokal dan membaur dengan warga, sehingga tentu akan sangat elok dan membanggakan jika anak-anak asli Kulon Progo juga diajak untuk mengenali serta mencintai kekayaan tanah kelahirannya sendiri sejak dini.

Melalui program edu-wisata lokal yang terstruktur, karakter cinta daerah pada generasi muda akan terbentuk dengan lebih kuat karena mereka bisa berinteraksi langsung serta belajar dari para petani, perajin, dan pelaku UMKM setempat.

Priyo berharap catatan keberhasilan dari lapangan ini bisa mengetuk hati para pengambil kebijakan untuk segera melahirkan regulasi bersama demi kemajuan ekonomi kreatif sekaligus penguatan pendidikan karakter di Kulon Progo.

Jurnalis Budi Legowo Santoso

Continue Reading

Metro

PRIYO SANTOSO S.H,M.H KETUA LKAP KULON PROGO AJAK SEMUA PIHAK PRIORITASKAN JEMBATAN BEDOYO GUPIT

Published

on

By

KULON PROGO –23/5/2026 – Karyapost, Keberadaan infrastruktur yang mumpuni menjadi kunci utama dalam merawat kesejahteraan dan keselamatan masyarakat pedesaan.

Berangkat dari komitmen tersebut, Lembaga Kajian dan Advokasi Pembangunan (LKAP) Kulon Progo mengajak seluruh pemangku kebijakan untuk memberikan perhatian khusus terhadap kondisi Jembatan Bedoyo dan Jembatan Gupit yang membentang di atas Sungai Gunsairo,kawasan Pesisir Karangsewu.

Ketua LKAP Kulon Progo, Priyo Santoso, S.H., M.H., yang juga berprofesi sebagai Advokat dan sehari-hari berkantor di Sidakan, Banaran, Galur, menyampaikan bahwa jembatan warisan era Orde Baru tersebut sudah saatnya mendapatkan sentuhan perbaikan dan pelebaran dari pemerintah.

Sebagai lembaga yang konsen dalam dukungan kajian dan advokasi pembangunan, pihaknya melihat ada urgensi yang sangat nyata di lapangan di mana jembatan dengan lebar sekitar 125 sentimeter tersebut kapasitasnya kini sudah melampaui batas daya dukung untuk mobilitas modern masyarakat.

Priyo Santoso menjelaskan bahwa aspek kemaslahatan masyarakat menjadi alasan utama mengapa jembatan ini perlu segera ditingkatkan kapasitasnya agar bisa dilalui oleh armada roda empat atau mobil logistik.

Saat ini kawasan pesisir selatan Karangsewu tumbuh subur sebagai sentra komoditas hortikultura, terutama cabai dan sayur-mayur namun potensi ekonomi yang melimpah tersebut terkendala akses angkutan karena petani masih harus melangsir hasil panen menggunakan sepeda motor menuju jalur utama.

Jika jembatan diperlebar, armada mobil pikap bisa langsung masuk ke lahan, memotong biaya logistik, sekaligus menjaga kesegaran hasil bumi hingga ke tangan konsumen.

Di sisi lain, aspek keselamatan warga juga menjadi pertimbangan krusial yang tidak kalah penting.

Mengingat posisinya yang berada di wilayah pesisir selatan dengan potensi rawan bencana tsunami, keberadaan jembatan yang representatif merupakan sebuah keharusan maka jembatan bedoyo dan gupit selama ini menjadi jalur evakuasi paling logis bagi warga di bantaran Sungai Gunsairo, sehingga pelebaran jembatan dipastikan akan memberikan rasa aman yang lebih tinggi serta meminimalkan risiko penumpukan arus transportasi saat situasi darurat terjadi.

Lebih lanjut, Priyo Santoso menambahkan bahwa LKAP yang selalu bergerak berbasis data dan kepentingan publik memandang usulan pembangunan ini sebagai langkah strategis untuk mengintegrasikan lintasan komunikasi dan ekonomi antar wilayah selatan.

Pihaknya mengetuk pintu hati pemangku kebijakan, baik di tingkat daerah maupun pusat, untuk bersama-sama memberikan perhatian pada jembatan ini karena langkah tersebut bukan sekadar membangun fisik beton, melainkan wujud kehadiran negara dalam merawat urat nadi ekonomi petani sekaligus melindungi keselamatan jiwa warga pesisir.

Advokat Galur tersebut menyatakan optimisme bahwa pemerintah akan merespons harapan masyarakat ini dengan bijak dan menempatkannya sebagai prioritas program ke depan.

Jurnalis Budi Legowo Santoso

Continue Reading

Metro

Biomassa Rekayasa Genetika Dinilai Jadi Solusi Industri Hijau dan Energi Ramah Lingkungan

Published

on

By

Jakarta – Pemanfaatan biomassa berbasis rekayasa genetika dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan industri hijau dan energi ramah lingkungan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Dra. N. Sri Hartati dalam kegiatan yang membahas inovasi pemanfaatan biomassa untuk industri berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Sri Hartati menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber biomassa yang melimpah, baik dari sektor pertanian maupun kehutanan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi dan berbagai produk ramah lingkungan lainnya yang mampu mendukung transformasi industri nasional menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan.kamis (21/5/2026)

“Untuk mendukung industri yang efisien dan ramah lingkungan, kita dapat memanfaatkan sumber biomassa yang besar, baik dari limbah pertanian maupun kehutanan, untuk dikembangkan menjadi bioenergi dan produk ramah lingkungan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu pendekatan yang saat ini terus dikembangkan adalah rekayasa genetika pada tanaman dengan memodifikasi struktur dinding sel. Langkah tersebut dilakukan agar biomassa yang dihasilkan menjadi lebih mudah dan efisien saat dikonversi menjadi energi maupun produk industri lainnya.

Ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya seluruh biomassa dapat dikonversi. Namun, proses tersebut masih menghadapi sejumlah kendala yang berasal dari struktur alami dinding sel tanaman. Karena itu, penelitian dilakukan untuk mengubah komposisi dan struktur dinding sel agar proses konversi dapat berlangsung lebih optimal.

“Dengan modifikasi struktur tersebut, proses konversi menjadi lebih efisien. Kebutuhan energi dan penggunaan bahan kimia dapat ditekan sehingga lebih mendukung konsep industri hijau,” jelasnya.

Sri Hartati juga menuturkan bahwa teknologi tanaman transgenik yang dikembangkan saat ini pada dasarnya telah berhasil dikuasai dan diproduksi. Meski demikian, penerapannya secara luas masih memerlukan berbagai tahapan pengujian, khususnya terkait aspek keamanan hayati dan dampak lingkungan.

“Teknologinya sebenarnya sudah dapat kami kuasai. Tanaman transgenik juga sudah bisa diproduksi, tetapi masih memerlukan pengujian lebih lanjut, terutama terkait keamanan hayati dan lingkungan,” katanya.

Ia berharap ke depan semakin banyak riset dan pengembangan terkait pemanfaatan biomassa melalui pendekatan sistem biologis dan rekayasa genetika. Menurutnya, inovasi tersebut dapat membuka peluang besar bagi terciptanya industri nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat global.

“Diharapkan semakin banyak pihak yang mengembangkan pemanfaatan biomassa berbasis rekayasa genetika sehingga dapat menghasilkan teknologi yang lebih mudah diterapkan dan lebih efisien bagi industri hijau di Indonesia,” tutupnya.

Continue Reading

Trending