Connect with us

Metro

The PRAKARSA Luncurkan Riset Kemiskinan Multidimensi di Indonesia 2012-2021, Hasilnya 33 dari 34 Provinsi di Indonesia Alami Deprivasi Lebih Dari 50 Persen

Published

on

Jakarta – Lembaga Riset dan Advokasi Kebijakan Publik The PRAKARSA meluncurkan laporan Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) di Indonesia 2012-2021 yang dikemas dalam acara “Seminar Nasional dan Launching Indeks Kemiskinan Multidimensi di Indonesia 2012-2021: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Indonesia Emas 2045”. Hasil pengukuran IKM menunjukkan adanya penurunan jumlah penduduk miskin multidimensi sekitar 80 juta jiwa, dari 120,1 juta jiwa pada tahun 2012, turun menjadi 38,95 juta jiwa di tahun 2021. Bertempat di The Sultan Hotel Jakarta pada Rabu, 9 Agustus 2023.

Dalam pidato pembukaannya, Ah Maftuchan, Direktur Eksekutif PRAKARSA menerangkan tiga alasan PRAKARSA melakukan studi IKM.

“Pertama, dengan IKM kita dapat penjelasan mendalam tentang bagaimana dan dalam konteks apa seseorang menjadi miskin. Dengan demikian, kita akan mampu menjawab pertanyaan klasik ‘siapa itu yang miskin?” ujar Maftuchan.

Alasan kedua yang dituturkan Maftuchan adalah pendekatan kemiskinan multidimensi telah diakui dan siambut baik pada level global dan nasional. “Ketika IKM disambut baik pada level global dan nasional, kita tergerak untuk turut serta menyambutnya dengan melakukan kajian IKM dengan harapan hasil kajian bermanfaat bagi pengentasan kemkiskinan multidimensi di Indonesia.”

“Ketiga, acara ini adalah salah satu taktik kampanye kami dengan harapan kedepannya IKM digunakan sebagai pendekatan resmi pemerintah dalam melakukanintervensi penanggulanan kemiskinan di Indonesia,” jelas Maftuchan.

Laporan IKM Indonesia 2012-2021 dipaparkan Victoria Fanggidae, Deputi Direktur The PRAKARSA. Dalam paparannya, Victoria menyampaikan tujuan IKM adalah untuk memotret kondisi kemiskinan secara holistik dan tidak berusaha menghilangkan kemiskinan moneter, tetapi memberikan pandangan yang lebih terukur dalam segala aspek untuk mengurangi kemiskinan.

“Tren angka kemiskinan multidimensi di Indonesia mengalami penurunan, dari 49 persen pada tahun 2012 menjadi 14,3 persen di tahun 2021. Kendati menurun, angka kemiskinan multidimansi lebih tinggi dibandingkan angka kemiskinan moneter,” jelas Victoria.

Victoria menyampaikan persentase jumlah penduduk miskin di perdesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. “Rumah layak, air minum layak, dan bahan bakar memasak menjadi masalah utama kemiskinan multidimensi di perdesaan. Sedangkan di perkotaan, rumah layak, morbiditas, dan air minum layak yang menjadi masalah utama kemiskinan multidimensi,” papar Victoria.

Lebih lanjut Victoria menjelaskan, misalnya pada permasalahan rumah layak, laporan IKM Indonesia 2012-2021 menemukan sebanyak 33 dari 34 provinsi di Indonesia mengalami deprivasi lebih dari 50%. Pada tahun 2021 Provinsi Kalimantan Tengah menjadi provinsi di Indonesia dengan persentase penduduk miskin terdeprivasi pada indikator rumah layak tertinggi yakni sebanyak 98,03%. Hanya Provinsi DKI Jakarta yang memiliki penduduk miskin dengan kondisi rumah (atap, lantai, dinding) layak sesuai dengan standar BPS RI terendah yakni sebesar 44,99%

Vicotria merekomendasikan agar Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota menggunakan hasil pengukuran kemiskinan multidimensi untuk menentukan prioritas kebijakan/program penanganan kemiskinan.

Laporan IKM Indonesia 2012-2021 disambut Nunung Nuryantono, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK.

“Terdapat tiga strategi besar pemerintah untuk menghapus kemiskinan ekstrem: pertama, pengurangan beban melalui bantuan sosial dan pemenuhan pangan; kedua, peningkatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja; dan ketiga, pengurangan kantong kemiskinan. Hasil penghitungan IKM oleh PRAKARSA relevan dengan strategi menghapus kemiskinan di Tanah Air,” sambut Nunung saat menerima laporan.

Dalam acara talkshow “Respon dan Sharing Pengalaman Pengentasan Kemiskinan Multidimensi di Indonesia,” Kunta Wibawa, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan mengungkapkan tantangan pemerataan akses layanan kesehatan di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia. “Permasalahan layanan kesehatan di dareah 3T meliputi kondisi geografis, peran swasta pada pelayanan kesehatan yang rendah, biaya hidup tinggi, SDM berkualitas yang langka, utilisasi fasilitas kesehatan rendah,” pungkasnya.

Kunta pun menyampaikan strategi Kemenkes dalam penguatan sistem kesehatan termasuk sistem surveilance kesehatan lintas negara. “Kemenkes memastikan layanan kesehatan Indonesia setara dengan negara tetangga dan memastikan perlindungan masyarakat dari penyakit menular luar negeri,” jelas Kunta. Kunta mengabarkan, saat ini Indonesia memiliki 11 fasilitas pelayanan kesehatan di 11 Pos Lintas Batas Negara yang berbatasan dengan Malaysia, Timor Leste dan Papua Nugini.

Sementara, Theresia M. Florensia, Kepala Bidang Ekonomi Bappelitbangda Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan upaya pengentasan kemiskinan di Provinsi NTT. “Salah satu strategi pengentasan kemiskinan di NTT adalah dengan pembangunan pariwisatanya. Pariwisata dipilih karena memberikan multiplier effect bagi masyarakat,” jelas Theresia.

Selain itu, Theresia menambahkan, dalam menciptakan efek ekonomi yang berdampak bagi masyarakat, Pemprov NTT juga berupaya menjadikan NTT sebagai basis mata-rantai sisi hulu dari rantai pasokan global di bidang R&D, industri pembenihan/pembibitan, dan bahan baku industri pengolahan.

Theresia pun mengungkapkan bahwa salah satu hambatan Pemprov NTT dalam pembangunan rumah layak huni adalah batasan kewenangan. “Pemprov hanya memiliki dua kewenangan terkait dengan hal tersebut yaitu pembangunan rumah akibat bencana dan relokasi sebagai dampak proyek pemerintah,” terang Theresia.

Pada kesempatan yang sama, Nurma Midayanti, Direktur Statistik Ketahanan Ssosial Badan Pusat Statistik menyampaikan, meskipun berbeda, kemiskinan multidimensi dan moneter memiliki kesamaan. “Buktinya keduanya mengalami penurunan antara tahun 2012 ke tahun 2021,” ujar Nurma.

Ia pun mengakui menilai konsumsi masyarakat Indonesia mengalami perkembangan, sedangkan metode pengukuran kemiskinan yang digunakan masih sama sejak tahun 1998. “Misalnya, sekarang masyarakat cenderung konsumsi makanan jadi, kalau dulu belanja ke pasar.

Oleh karenanya, memang perlu ada pembaharuan metode pengukuran kemiskinan moneter,” ujar Nurma.
Menanggapai para narasumber, Ah MAftuchan berpendapat bahwa kata kunci mendasar dalam mengakselerasi efektifitas manajemen pembangunan adalah ‘tata kelola’.

“Tata kelola pembangunan yang baik dapat dibangun dengan partisipasi multistakeholders yang bermakna dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Pembangunan,” kata Maftuchan.

Lebih lanjut, Maftuchan menyatakan hasil penghitungan IKM Prakarsa dapat digunakan Pemerintah Daerah untuk menyusun program penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian, penyusunan prioritas anggaran daerah terbentuk dengan baik dan akurat.

“Jangan seperti sekarang, proses penganggaran daerah ibarat ‘mengoles mentega di atas roti tawar’, programnya itu-itu saja, hanya angkanya dinaikkan sedikit-sedikit setiap tahun,” tuturnya.

Acara kemudian ditutup oleh Purnama Adil Marata, Ketua Badan Pengurus PRAKARSA. “Sudah semestinya pemerintah menjadikan indeks kemiskinan multidimensi sebagai tolok ukur resmi untuk mengukur tingkat kemiskinan di negara kita,” ucap Purnama.

Lebih lanjut, ia mengatakan, “dengan mengadopsi pendekatan kemiskinan multidimensi, strategi pengentasan kemiskinan dapat lebih tepat sasaran dan efektif,” tutupnya.

Continue Reading

Metro

Puluhan Tahun Menanti Sentuhan Pemerintah, Jalan Masuk Boro 1 & 2 Tak Kunjung Dibangun

Published

on

By

KULON PROGO,27/6/2026, Karya post Akses jalan masuk sepanjang 300 meter menuju Padukuhan Boro 1 dan Boro 2, Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, hingga kini belum tersentuh pembangunan yang memadai.

Padahal, jalan tersebut merupakan urat nadi strategis yang menghubungkan aktivitas sosial, budaya, dan urat nadi perekonomian masyarakat setempat.

Saat ini, kondisi jalan penghubung tersebut memprihatinkan. Warga hanya mengandalkan jalan cor dua lajur yang merupakan sisa peninggalan era sebelum tahun 2000. Dengan kondisi yang mulai tergerus usia, jalan tersebut dinilai sudah tidak representatif lagi untuk menampung tingginya mobilitas masyarakat dan berbagai event regional yang kerap digelar di wilayah tersebut.

Pengurus Tuwanggana Karangsewu, Pujiyono, yang juga merupakan anggota TNI aktif sekaligus penggerak pemberdayaan masyarakat setempat, menegaskan bahwa perbaikan jalan ini sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Menurutnya, posisi Padukuhan Boro 1 dan 2 sangatlah strategis karena berada dekat dengan jalur sirip infrastruktur nasional.

“Jalan masuk sepanjang 300 meter ini adalah wajah depan wilayah kami. Lokasinya sangat dekat dan strategis dengan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) serta Jalan Daendels.

Terlebih lagi, wilayah ini merupakan akses utama menuju kawasan desa budaya dan pusat kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Sudah sepatutnya ada pembangunan jalan yang representatif untuk mendukung roda aktivitas di sini,” ujar Pujiyono.

Ia menambahkan, potensi sosial-budaya di Padukuhan Boro 1 dan 2 sangat tinggi, di mana berbagai event kemasyarakatan rutin digelar. Namun, keterbatasan infrastruktur jalan masuk sering kali menjadi kendala teknis di lapangan.

Senada dengan hal tersebut, Tokoh Masyarakat Kapanewon Galur, Priyo Santoso, S.H., M.H., ikut memberikan dorongan kuat agar usulan pembangunan jalan ini segera diakomodasi dan menjadi prioritas pemerintah daerah maupun pusat.

Priyo Santoso menekankan bahwa aspirasi warga Tuwanggana ini sangat segaris dengan visi besar jajaran pemerintahan di tingkat pusat dalam menggenjot infrastruktur penunjang daerah terdepan.

“Semangat Bapak Presiden sangat jelas, yaitu membangun wilayah pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat ketahanan pangan dari pinggiran. Usulan pembangunan jalan masuk Boro 1 dan 2 ini wajib didukung penuh oleh pemerintah. Mengapa? Karena selain sebagai akses budaya, kawasan Galur di sini juga merupakan daerah pertanian produktif yang menopang ketahanan pangan lokal. Akses jalan yang layak akan langsung memotong biaya logistik hasil tani warga,” tegas Priyo Santoso.

Melalui momentum ini, warga Tuwanggana Karangsewu berharap pemerintah tidak lagi menutup mata. Pembangunan jalan masuk sepanjang 300 meter ini diharapkan dapat segera terealisasi demi mewujudkan pemerataan pembangunan dan mendukung kemajuan potensi lokal yang selama ini tertahan oleh keterbatasan akses.

Jurnalis Budi Legowo Santoso

Continue Reading

Metro

Gelar Leaders Forum Bersama Ahok, IKA PPM & PPM School Gandeng Mirae, INTI Tangsel dan McDonald’s Indonesia

Published

on

By

Jakarta,- Memasuki tahun 2026, Indonesia berada dalam fase per-tumbuhan yang relatif stagnan, cenderung menurun menghadapi tekanan strategis yang semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang konservatif, percepatan transformasi digital, peningkatan ekspektasi masyarakat, serta risiko reputasi dan kepercayaan publik menuntut kualitas kepemimpinan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga tangguh dan konsisten dalam jangka panjang.

Di tengah dinamika tersebut, pemimpin dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan antara pencapaian kin-erja bisnis, ketahanan organisasi, dan integritas pengam-bilan keputusan. Tekanan publik, volatilitas ekonomi global, serta perubahan perilaku nasabah dan tenaga kerja menjadikan ketahanan (resilience) sebagai kompe-tensi kepemimpinan yang krusial dan bukan lagi sekadar atribut personal.

Pengalaman memimpin organisasi besar melewati berbagai fase krisis, transformasi, dan perubahan struk-tural menjadi sumber pembelajaran penting bagi generasi pemimpin berikutnya. Kepemimpinan yang adaptif dan resilien memungkinkan organisasi tidak hanya bertahan dalam situasi sulit, tetapi juga tumbuh secara berkelanju-tan dan membangun kepercayaan dengan nasabah, karyawan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Dalam rangka menjaga wawasan praktis tentang adaptive dan resilient leadership serta memberikan inspirasi dan pembelajaran karier jangka panjang untuk generasi pemimpin masa depan, Ikatan Alumni PPM School of Management (IKA PPM) dan PPM School Management (PPM School) menggandeng PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) serta McDonald’s Indonesia menggelar Leaders Forum Bersama Ahok. Forum berbentuk diskusi talkshow “Adaptive & Resilient Leadership, Menjadi Pemimpin Adaptif Menghadapi Ketidakpastian” guna mengupas bagaimana memimpin dengan tenang, konsisten, tetap kuat di tengah tekanan dan perubahan.

Dengan Host: Associate Director HR & GS McDonalds Indonesia, Yan Wibisono. Dan, pembicara Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), Gubernur DKI periode 2014 2017, Wakil Ketua Umum INTI Robert Njo, Tomy Taufan (Direktur PT. Mirrae Asset Sekuritas Indonesia).

Acara dihadiri ratusan audience dari kalangan professional perbankan, leader, talenta muda, Gen Z & millennial serta mahasiswa/pelajar. Talkshow Leaders Forum ini di-gelar di Ruang A. M. Kadarman, Lantai 2, Gedung B, PPM School, Tugu Tani Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 Juni 2026, mulai pukul 13.00 WIB.

Adapun yang bertindak sebagai opening speech dalam seminar ini adalah Ketua Umum IKA PPM: David Chandrawan. Dan, Ketua PPM School Dr. Wendra, M.HRM.

Beri Pemahaman Terkait Adaptive & Resilient Leadership
Ketua Umum IKA PPM, David Chandrawan, dan Ketua PPM School, Dr. Wendra kompak dalam keterangannya kepada awak media, menyampaikan bahwa Leaders Forum ini dapat memberikan pemahaman kepada para leader untuk menjadi pemimpin adaptif menghadapi keti-dakpastian. Karena, lanjutnya, pemimpin dituntut meng-hadapi perubahan yang makin kompleks, mulai dari tekanan ekonomi, percepatan digital, hingga sorotan publik.

Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan tidak cukup hanya adaptif. Tetapi, juga harus resilient, tenang, dan konsisten dalam mengambil keputusan jangka panjang.

Pokok pembahasan Leaders Forum, kata David, yakni membantu para leader dan calon pemimpin agar dapat menggali wawasan praktis tentang adaptive & resilient leadership terkait:
1. Memahami bagaimana pemimpin mengambil keputu-san strategis di bawah tekanan dan ketidakpastian.
2. Mengidentifikasi peran integritas, konsistensi, dan keteladanan pemimpin dalam menjaga kepercayaan pub-lik.
3. Memberikan inspirasi dan pembelajaran karier jangka panjang untuk generasi pemimpin masa depan.

Ketua PPM School Dr. Wendra menambahkan beberapa hal utama yang menjadi fokus pembahasan diskusi Leaders Forum, antara lain sebagai berikut.
1. Adaptive Leadership di Tengah Ketidakpastian
* Memimpin organisasi di tengah perubahan ekonomi, teknologi, dan ekspektasi publik
* Mengambil keputusan strategis dalam situasi krisis dan tekanan tinggi
2. Integritas dan Konsistensi Kepemimpinan
* Menjaga kualitas keputusan dan tata kelola di bawah sorotan public
* Peran integritas dan keteladanan pemimpin dalam menjaga reputasi organisasi
3. Membangun Resiliensi Organisasi dan Tim
* Ketahanan tim menghadapi tekanan, perubahan dan krisis
* Membangun budaya kerja yang siap menghadapi tantangan jangka panjang
4. Kepemimpinan Jangka Panjang
* Berpikir melampaui target jangka pendek
* Menyiapkan fondasi organisasi dan kepemimpinan yang berkelanjutan
Peroleh Wawasan Kepemimpinan Strategis
Basuki Tjahaya Purnama atau yang dikenal juga dengan nama Ahok menekankan bahwa memimpin organisasi besar saat krisis membutuhkan integritas, keberanian, dan karakter yang teguh.

Dari pengalamannya memimpin birokrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta hingga BUMN sebesar PT Pertamina, ia membagikan beberapa refleksi inti:

1. Visi dan Keberanian
Memimpin di ibu kota atau perusahaan negara tidak sekadar mengandalkan kepintaran, melainkan keberanian mengambil keputusan tegas meski tidak populer.
2. Transparansi dan Data
Penerapan sistem digital (seperti e-budgeting) menjadi fondasi untuk menjaga akuntabilitas publik dan mence-gah penyimpangan di tengah ekosistem yang resistan terhadap perubahan.
3. Kepatuhan pada Meritokrasi
Ahok menentang keras campur tangan politik yang men-gorbankan profesionalisme. Menurutnya, pemimpin harus berani menolak intervensi yang merugikan perusa-haan dan siap memasang badan demi kepentingan kha-layak luas.
4. Pengendalian Krisis
Menghadapi tekanan publik, polarisasi, dan konflik inter-nal, ia percaya bahwa kunci bertahap adalah fokus pada kinerja dan pelayanan, sambil membiarkan hasil kerja ny-ata (showcase) menjadi pembuktian kepada para pengkritik.

Organizational Resilience Versi Robert Njo
Resiliensi organisasi diakui sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan. Berdasarkan diskusi strategis Leaders Forum di PPM School, bersama leader/praktisi bisnis seperti yang dikatakan Wakil Ketua Umum INTI Pusat, Robert Njo yang didampingi Indra Wahidin, Ketua Umum INTI & Ulung Rusman, Ketua Harian INTI, serta Santo Wirawan, Ketua INTI Tangsel, mengatakan bahwa kapasitas kepemimpinan yang adaptif dan berdaya tahan tinggi adalah fondasi mutlak agar bisnis dapat bertahan menghadapi ketidakpastian.

Berikut adalah pilar utama kepemimpinan resilien yang mendukung keberlanjutan organisasi versi Robert Njo.
1. Pengambilan Keputusan CepatPemimpin yang tangguh mampu membaca situasi dan bertindak efisien serta mengambil keputusan taktis tanpa ragu di masa krisis.
2. Pemecahan Masalah KolaboratifAlih-alih memberikan semua jawaban, pemimpin yang baik memfasilitasi timnya agar mandiri dalam mene-mukan solusi.
3. Pembangunan Kapasitas AdaptifKemampuan menye-suaikan gaya kepemimpinan dengan konteks dan situasi adalah kunci mempertahankan fokus utama tim.
4. Ketahanan Mental (Hardiness)Pemimpin tidak hanya mengelola tekanan untuk diri sendiri. Tetapi, juga menjadi jangkar penenang yang memotivasi seluruh anggota organisasi.
Saran Untuk Pemimpin Masa Depan
Sebagai Direktur di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tomi Taufan menekankan pentingnya adaptasi dinamis melalui tiga pilar utama: adopsi teknologi yang tangguh (seperti fitur trailing stop untuk mitigasi risiko), edukasi finansial untuk investor ritel, dan pemanfaatan advisory wealth management. Menurut Tomi, dalam menghadapi dinamika industri pasar modal dan asset management saat ini, pendekatan strategis yang dijalankan meliputi pemanfaatan teknologi yakni menggunakan platform ino-vatif seperti aplikasi M-STOCK untuk merespons perger-akan pasar dengan lebih cepat.

Literasi dan edukasi untuk menyeimbangkan antusiasme investor ritel yang terus bertambah dengan pemahaman risiko dan literasi keuangan yang memadai. Layanan ter-personalisasi serta mengembangkan layanan advisory yang memungkinkan diskusi dan perumusan strategi in-vestasi yang disesuaikan dengan tujuan finansial nasabah.
Talkshow Interaktif

Format acara sendiri berbentuk talkshow interaktif yang mengangkat pengalaman lapangan dan prinsip-prinsip praktis dari narasumber. Yakni, dengan pendekatan yang membumi dan pengalaman praktikal.
Dalam acara itu, David Chandrawan menegaskan, Forum Leadership ini mengajarkan peserta bahwa tantangan kepemimpinan di Indonesia ke depan bukan hanya soal perubahan teknologi atau tekanan bisnis.

Melainkan, kemampuan pemimpin untuk tetap adaptif, tenang, dan tangguh di tengah ketidakpastian. “Adaptive & Resilient Leadership menjadi kunci untuk mengambil keputusan yang konsisten, menjaga kepercayaan, serta membangun organisasi dan karier jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar David yang merupakan alumni STM PPM cum laude tahun 2021 dan lulusan terbaik Faukltas Teknik Universitas Indonesia (UI) tahun 1999 sekaligus Transaction Banking Manager pada Bank Central Asia (BCA) ini mengakhiri pernyataannya.

Acara ditutup dengan penyerahan plakat, pemberian donasi kepada tiga puluh pemimpin masa depan dari Yayasan Yatim Piatu Muslimin serta penyerahan plakat dam top up kepada narasumber dan moderator. Hiburan full band dengan artis top ibu kota dan doorprize yang berlimpah serta foto bersama semua peserta dan nara sumber mengakhiri Leaders Forum ini dengan indah.

Continue Reading

Metro

PMI Kota Jaksel Bersama GAMISMU Masjid AL IKHLAS Gelar Khitanan Masal

Published

on

By

Jakarta – Dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah 1448 H, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Selatan berkolaborasi dengan Pengurus Keluarga Majelis Muslimah (GAMISMU) dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ikhlas menyelenggarakan kegiatan sosial Khitanan Massal bagi masyarakat .

Kegiatan yang berlangsung di Lantai 2 Masjid Al Ikhlas, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/6), diikuti oleh 16 peserta.

Kegiatan ini menjadi momen yang membahagiakan bagi para orang tua yang memanfaatkan layanan khitanan gratis sebagai bentuk kepedulian PMI Kota Jakarta Selatan bersama GAMISMU dan DKM Masjid Al Ikhlas kepada masyarakat, khususnya keluarga yang membutuhkan.

Dalam sambutan Ketua PMI Kota Jakarta Selatan H.Mundari,S.IP, M.SI.yang dibacakan oleh Ketua Bidang Pelayanan dan Penanggulangan Bencana, disampaikan bahwa khitanan massal merupakan wujud nyata kepedulian dan pengabdian PMI kepada masyarakat, khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi anak-anak di wilayah Jakarta Selatan.

Pada kegiatan tersebut, PMI Kota Jakarta Selatan Membantu menyediakan tenaga medis, operator khitan, peralatan kesehatan, bingkisan, serta uang saku bagi seluruh peserta.

Seluruh Bantuan pembiayaan PMI Kota jakarta selatan dalam kegiatan ini berasal dari dana yang dihimpun melalui Bulan Dana PMI Kota Jakarta Selatan sebagai sumbangan masyarakat, yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk berbagai program kemanusiaan, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelatihan, penanggulangan bencana, serta kegiatan sosial lainnya..

Ketua DKM Masjid Al Ikhlas, Ustaz Hardiansyah, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada PMI Kota Jakarta Selatan atas dukungan penuh sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PMI Kota Jakarta Selatan yang telah membantu hingga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses. Terima kasih juga kepada Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Puskesmas Kelurahan Pejaten Timur, serta para donatur yang telah memberikan dukungan. Semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dra. Hj. Maryanthi, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga dhuafa dan masyarakat kurang mampu yang membutuhkan layanan khitan.

“Kami telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar program ini tepat sasaran.

Selain layanan khitan gratis, setiap peserta juga menerima paket perlengkapan sekolah, paket kesehatan, bingkisan makanan, serta uang saku sebagai bentuk perhatian dan dukungan kepada anak-anak,” jelasnya.

Salah seorang orang tua peserta mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut.

“Kami sangat bersyukur dan terbantu dengan adanya khitanan massal gratis ini.

Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, PMI Kota Jakarta Selatan kembali menegaskan hadir memberikan pelayanan kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan lembaga keagamaan.

(And/04)

Continue Reading

Trending