JAKARTA – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) mendorong penetapan K.H. Abbas Abdul Jamil atau Mbah Abbas Buntet, ulama asal Cirebon, Jawa Barat, sebagai Pahlawan Nasional melalui seminar nasional dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 di Jakarta, Senin (19/10).
Seminar bertajuk “K.H. Abbas Abdul Jamil dan Perjuangannya dalam Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia” tersebut menjadi bagian dari upaya GP Ansor untuk mengangkat kembali rekam jejak perjuangan Mbah Abbas Buntet dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sekaligus mengawal proses pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional.
Kegiatan yang mengusung semangat Hari Santri bertema “Jiwa Raga untuk Indonesia” itu juga menjadi ruang untuk menggali nilai perjuangan, keberanian, kepemimpinan, dan keteladanan Mbah Abbas Buntet yang dinilai relevan bagi generasi muda, khususnya kader Nahdlatul Ulama (NU) dan GP Ansor.
Dalam sambutannya, pimpinan GP Ansor menegaskan bahwa keteladanan Mbah Abbas Buntet perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar dikenang sebagai bagian dari sejarah bangsa.
“Di mata kita, K.H. Abbas Buntet adalah pahlawan yang tidak tergoyahkan. Tugas kita saat ini adalah menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah serta mengambil bagian dari nilai-nilai perjuangannya untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
GP Ansor juga menyoroti peran Mbah Abbas Buntet dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk keterkaitannya dengan dinamika perjuangan yang melatarbelakangi Pertempuran Surabaya. Perjuangannya disebut tidak hanya mencerminkan keberanian menghadapi penjajah, tetapi juga kepemimpinan dalam membina umat dan mengembangkan pendidikan pesantren.
Melalui seminar tersebut, GP Ansor berharap pengusulan Mbah Abbas Buntet sebagai Pahlawan Nasional dapat memperkuat pengakuan terhadap kontribusi ulama dan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa.
Dorong Khidmat yang Profesional
Selain mengangkat sejarah perjuangan ulama, GP Ansor memanfaatkan momentum Hari Santri 2026 untuk mendorong transformasi pola pengabdian atau khidmat kader muda NU agar semakin profesional dan berdampak bagi masyarakat.
Menurut pimpinan GP Ansor, semangat pengabdian perlu diikuti dengan pengembangan kompetensi, penguatan kapasitas profesional, dan peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian, pengabdian tidak berhenti pada komitmen organisasi, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
“Kita perlu menggabungkan antara kata ‘khidmat’ dan ‘profesional’. Khidmat harus melahirkan aktivitas, aktivitas melahirkan kompetensi, kompetensi melahirkan profesi, dan profesi melahirkan kesejahteraan. Dengan khidmat yang dikelola dengan baik, kader-kader muda Ansor dapat menjadi pilar kemajuan NU dan bangsa di masa depan,” katanya.
Seminar nasional tersebut dihadiri jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor, perwakilan badan otonom NU, antara lain IPNU, Fatayat NU, dan Muslimat NU, keluarga besar Pondok Pesantren Buntet Cirebon, akademisi, serta narasumber dan pimpinan lembaga terkait.
- GP Ansor berharap pembahasan mengenai perjuangan Mbah Abbas Buntet dapat memperluas pemahaman generasi muda terhadap peran ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus menjadikan nilai-nilai perjuangan tersebut sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan masa kini.
