JAKARTA – Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Wilayah Depok terus mendorong pelestarian dan pengenalan kekayaan budaya Nusantara melalui promosi busana tradisional, termasuk kain tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen tersebut ditunjukkan melalui partisipasi perwakilan PBI Depok, Agustin, dalam Simposium Nasional yang mengangkat pesona dan keunikan busana tradisional NTT.

Dalam kegiatan tersebut, Agustin tampil mengenakan sekaligus memperkenalkan kain tenun khas NTT yang memiliki nilai seni, filosofi, dan kearifan lokal. Menurut dia, kain tenun NTT memiliki keistimewaan karena dibuat secara manual oleh para perajin perempuan dengan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain mengandalkan ketelitian dan kreativitas para perajin, proses pembuatan kain tenun tersebut juga menggunakan teknik pewarnaan alami yang mencerminkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan.

“Keunikan kain tenun NTT terletak pada proses pembuatannya yang dikerjakan langsung dengan tangan oleh para perempuan hebat di NTT. Teknik pewarnaan alam yang digunakan juga menjadi salah satu keistimewaan yang patut kita apresiasi,” ujar Agustin.

Ia menjelaskan, motif kain tenun NTT tidak sekadar menghadirkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan hubungan masyarakat dengan alam dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Motif flora, fauna, hingga pola geometris yang menghiasi kain tenun mengandung makna filosofis serta mencerminkan identitas dan karakter budaya masyarakat setempat.

Menurut Agustin, kekayaan makna tersebut menjadikan kain tenun NTT bukan hanya sebagai produk busana, melainkan juga warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya di tengah perkembangan zaman.

Partisipasi PBI Depok dalam simposium tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda. PBI Depok berencana memperkenalkan tenun Nusantara secara langsung ke sekolah-sekolah agar anak-anak dapat mengenal kekayaan budaya Indonesia sejak usia dini.

Melalui edukasi tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengetahui keberadaan kain tenun tradisional, tetapi juga memahami proses pembuatannya, menghargai keterampilan para perajin, serta memiliki kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa.

Agustin menilai, pengenalan budaya sejak dini merupakan langkah penting untuk memastikan tradisi tenun tetap hidup dan tidak kehilangan tempat di tengah perubahan gaya hidup serta perkembangan tren busana modern.

Ia berharap, upaya pelestarian dan promosi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat dapat memperluas apresiasi terhadap kain tenun NTT, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Harapan kami ke depannya, kekayaan budaya seperti tenun NTT tidak hanya semakin dikenal luas di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar internasional dan semakin mendunia,” katanya.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan nasional dan rencana edukasi ke sekolah-sekolah, PBI Depok berharap kain tenun NTT semakin dikenal sebagai salah satu identitas budaya Indonesia yang memiliki nilai seni, filosofi, dan potensi untuk terus berkembang di tingkat global.