JAKARTA – Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) mendorong industri pertahanan dalam negeri memperkuat pengembangan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), khususnya Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) kelas Medium-Altitude Long-Endurance (MALE).

Dorongan tersebut disampaikan Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penerbangan Puspenerbad, Kolonel Cpn Yusuf Adi Purwita, saat meninjau pameran teknologi pertahanan yang menampilkan berbagai produk industri dalam negeri, Rabu (12/8/2026).

Yusuf menilai perkembangan teknologi UAV di Indonesia menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Namun, menurut dia, tantangan industri pertahanan bukan hanya menghasilkan platform drone, melainkan memastikan produk tersebut mampu memenuhi standar kebutuhan militer.

“Industri pertahanan kita saat ini sudah sangat beragam dan berkembang pesat. Namun, tantangan terpenting adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta pemenuhan spesifikasi militer (military spec) yang tinggi, mulai dari daya tahan (endurance), jangkauan, hingga sistem keamanan data link,” ujar Yusuf.

Ia mengatakan, kebutuhan TNI AD ke depan semakin mengarah pada wahana udara tanpa awak dengan kemampuan jelajah dan ketahanan tinggi. Karena itu, pengembangan UCAV MALE dinilai menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian industri pertahanan nasional.

Selain kemampuan platform, Yusuf menekankan pentingnya penguatan aspek keamanan komunikasi. Sistem data link pada UAV harus memiliki perlindungan yang memadai untuk menghadapi ancaman peretasan maupun penyadapan.

Menurut dia, penguasaan teknologi juga harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia, khususnya personel dan operator militer. Kemampuan mengoperasikan sistem mutakhir, komunikasi terenkripsi, hingga pemahaman terhadap keamanan siber menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem UAV militer.

Di sisi industri, Puspenerbad juga mendorong peningkatan TKDN. Industri dalam negeri diharapkan tidak berhenti pada tahap perakitan, tetapi mulai mengembangkan dan memproduksi bahan baku serta komponen teknologi secara mandiri.

“Yang kita harapkan bukan hanya kemampuan merakit, tetapi bagaimana industri dalam negeri mampu meningkatkan kandungan lokal hingga pada komponen-komponen strategis,” ujarnya.

Puspenerbad berharap perkembangan industri pertahanan nasional dapat terus diarahkan untuk menjawab kebutuhan alutsista TNI AD dengan standar kualitas militer yang mumpuni.

Penguatan teknologi UAV, peningkatan TKDN, keamanan data link, serta kesiapan operator menjadi sejumlah faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi drone, tetapi juga semakin mandiri dalam pengembangan teknologi penerbangan tanpa awak untuk kebutuhan pertahanan.