JAKARTA — Ketua MPR RI ke-15 periode 2019–2024 sekaligus politikus senior Bambang Soesatyo merayakan ulang tahunnya yang ke-64 dengan meluncurkan buku ke-38 berjudul Politik Hukum Konstitusi. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi mengenai perjalanan politik, hukum, konstitusi, dan arah pembangunan Indonesia.
Peluncuran buku berlangsung di Parle Senayan, Senayan Park, Jakarta, Kamis (10/9/2026), dan dihadiri sejumlah tokoh politik, pejabat, akademisi, pengusaha, wartawan, sahabat, serta keluarga Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet.
Dalam kesempatan yang sama, Bamsoet juga memperkenalkan buku karya wartawan senior Kompas, J. Osdar, berjudul Dari Senayan ke Ruang Kuliah.
Dalam sambutannya, Bamsoet mengatakan buku Politik Hukum Konstitusi lahir dari kegelisahan sekaligus refleksinya terhadap perjalanan konstitusi Indonesia, termasuk berbagai perdebatan mengenai arah kehidupan ketatanegaraan.
Menurut dia, pemahaman terhadap konstitusi menjadi penting agar penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara tetap berada dalam koridor yang telah disepakati bersama.
“Ini penting untuk kita dalami, pelajari, apakah kita hari ini tetap berjalan sesuai dengan koridor yang sudah disepakati bersama,” ujar Bamsoet.
Ia juga menyoroti pentingnya Indonesia memiliki arah pembangunan jangka panjang yang konsisten. Menurut Bamsoet, pergantian pemerintahan tidak semestinya selalu diikuti dengan perubahan mendasar terhadap arah pembangunan nasional.
Karena itu, dia mendorong adanya semacam kompas pembangunan yang dapat menjadi pedoman bersama lintas pemerintahan.
“Bangsa ini sudah saatnya punya kompas, yaitu pokok-pokok haluan negara, agar tidak setiap ganti pemimpin berganti juga programnya, berganti haluannya, sehingga kita terus kembali ke nol lagi,” katanya.
Bamsoet menilai kesinambungan pembangunan diperlukan agar berbagai program strategis yang telah dirancang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak terputus akibat perubahan kepemimpinan.
Selain arah pembangunan, Bamsoet turut menyinggung amanat konstitusi terkait pengelolaan sumber daya alam. Ia mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut dia, pemerintah memiliki koridor konstitusional yang telah ditetapkan melalui Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu, setiap kebijakan negara semestinya tetap mengacu pada tujuan bernegara dan kepentingan masyarakat luas.
“Semua sumber daya alam, baik yang terkandung di dalamnya maupun di atasnya, harus digunakan untuk sebesar-besarnya keselamatan dan kesejahteraan rakyat,” tutur Bamsoet.
Apresiasi untuk Keluarga dan Sahabat
Perayaan ulang tahun ke-64 Bamsoet berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Ia menyampaikan apresiasi kepada para sahabat, kolega, tokoh bangsa, serta keluarga yang hadir dan meluangkan waktu dalam momentum tersebut.
Bamsoet secara khusus menyampaikan terima kasih kepada keluarga, termasuk istri, anak-anak, serta 13 cucunya yang turut hadir dalam perayaan tersebut.
Menurut dia, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan panjangnya, termasuk dalam menjalankan berbagai aktivitas di bidang politik, organisasi, akademik, maupun penulisan buku.
Peluncuran Politik Hukum Konstitusi juga menandai perjalanan intelektual Bamsoet dalam menuangkan gagasan dan pemikirannya mengenai hukum, politik, konstitusi, serta kehidupan ketatanegaraan Indonesia.
Sementara itu, buku Dari Senayan ke Ruang Kuliah karya J. Osdar menghadirkan perspektif jurnalistik mengenai perjalanan dari lingkungan politik Senayan menuju ruang akademik.
Kehadiran kedua buku tersebut membuat perayaan HUT ke-64 Bamsoet tidak hanya menjadi momentum personal, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai demokrasi, konstitusi, politik, dan masa depan pembangunan Indonesia.
Melalui buku dan diskusi yang menyertainya, Bamsoet berharap pemikiran mengenai arah kehidupan berbangsa dan bernegara dapat terus dikembangkan serta menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan Indonesia secara berkelanjutan.
