JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan The 49th Jazz Goes to Campus (JGTC) sebagai ruang ekspresi, kreativitas, dan kolaborasi generasi muda sekaligus memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.
Dukungan tersebut disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Konferensi Pers The 49th Jazz Goes to Campus di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Pramono mengatakan, perjalanan JGTC yang telah berlangsung selama hampir lima dekade menunjukkan bahwa festival musik yang digagas mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan perkembangan musik dan budaya di Jakarta maupun Indonesia.
Menurut dia, JGTC memiliki posisi penting karena mampu mempertahankan eksistensinya sekaligus menjadi ruang pertemuan berbagai generasi penikmat musik.
“JGTC tahun ini yang ke-49, tahun depan ketika ke-50 dan sekaligus Jakarta ke-500 tahun. Saya sudah sampaikan ke Mas Candra, bisa enggak main di lima kota yang ada di Jakarta?” ujar Pramono.
Ia menilai gagasan tersebut dapat menjadi momentum untuk membawa semangat JGTC lebih dekat kepada masyarakat di berbagai wilayah Jakarta. Selain memperluas akses terhadap pertunjukan musik, konsep tersebut dinilai dapat memperkuat ekosistem seni dan budaya di Ibu Kota.
“JGTC ini betul-betul sudah menjadi bagian dari perjalanan kota ini, perjalanan sebenarnya bangsa ini. Karena sebenarnya juga ditiru di berbagai kampus yang lain,” katanya.
Pramono mengatakan Jakarta memiliki kekayaan ekosistem kreatif yang sangat beragam, mulai dari seni, budaya, musik, film hingga olahraga. Seluruh potensi tersebut, kata dia, perlu terus dikembangkan sebagai kekuatan kota sekaligus daya tarik Jakarta di tingkat nasional dan global.
“Pemprov DKI menyambut baik serta mengapresiasi penyelenggaraan JGTC ke-49 ini sebagai salah satu festival jazz tertua yang konsisten meramaikan ekosistem musik nasional,” ucapnya.
Dorong Revitalisasi Salemba
Selain mendorong perluasan penyelenggaraan JGTC ke berbagai wilayah Jakarta, Pramono juga menyambut baik gagasan menghidupkan kembali Salemba sebagai salah satu lokasi bersejarah dalam perjalanan festival tersebut.
Salemba memiliki nilai historis bagi JGTC karena menjadi bagian dari perjalanan awal festival musik jazz yang lahir dari lingkungan kampus.
“Kita semua bernostalgia dengan Salemba. Kalau bisa main di Salemba, saya akan memberikan support sepenuhnya,” ungkap Pramono.
Sementara itu, Founder JGTC Candra Darusman menjelaskan, sejak awal JGTC membawa misi untuk “membumikan jazz” dengan menghadirkan musik jazz yang pada saat itu dinilai relatif eksklusif ke lingkungan kampus.
Menurut Candra, karakter musik jazz yang memberikan ruang luas bagi improvisasi, eksplorasi, dan kebebasan berekspresi memiliki keterkaitan kuat dengan semangat generasi muda.
Dalam perkembangannya, JGTC tidak hanya menjadi festival musik tahunan, tetapi turut berkembang sebagai ruang pertemuan musisi, komunitas, mahasiswa, dan penikmat musik dari berbagai latar belakang.
Candra juga menyampaikan rencana pengembangan City Series melalui konsep “Reviving Jakarta as the Capital of Jazz”. Konsep tersebut diarahkan untuk membawa semangat JGTC ke berbagai wilayah di Jakarta sehingga jazz tidak hanya terpusat di satu lokasi.
Regenerasi Talenta Jazz
Ketua Badan Pengawas Forum Jazz Indonesia Ciko Hindarto mengatakan perjalanan panjang JGTC merupakan bagian dari investasi terhadap pengembangan musik jazz di Indonesia.
Menurut dia, keberlangsungan festival seperti JGTC penting untuk menjaga kesinambungan komunitas sekaligus membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru.
Ia menekankan pentingnya regenerasi agar perkembangan jazz di Indonesia tidak berhenti pada generasi tertentu.
“Jazz bukan musik orang tua, jazz adalah musik anak muda dan selalu muda,” ujar Ciko.
Sementara itu, Ketua JGTC Andra Ahmad Daradjatun mengatakan penyelenggaraan JGTC ke-49 mengusung tema “Resonating Jazz Through Every Soul”.
Menurut Andra, tema tersebut membawa pesan bahwa jazz tidak semata-mata dipahami sebagai genre musik, tetapi juga merepresentasikan nilai kolaborasi, kreativitas, improvisasi, dan kebebasan berekspresi.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, dapat diterapkan tidak hanya dalam bermusik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Andra berharap JGTC dapat terus mempertahankan perannya sebagai ruang bagi talenta muda untuk berkembang, sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik jazz.
Dengan dukungan Pemprov DKI Jakarta dan pengembangan konsep City Series, JGTC diharapkan tidak hanya menjadi agenda musik tahunan, tetapi turut memperkuat ekosistem industri kreatif serta menegaskan Jakarta sebagai salah satu pusat perkembangan musik jazz di Indonesia.
