Jakarta – PT Bangja Inti Ingridien memanfaatkan ajang Food Ingredients (FI) Asia Indonesia 2026 di Jakarta untuk memperkenalkan inovasi bahan baku pangan dan produk perisa (flavor) yang dikembangkan di dalam negeri.
Pameran industri bahan baku makanan dan minuman tersebut berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dan menjadi forum bagi pelaku industri untuk memperkenalkan teknologi, inovasi, serta berbagai produk bahan baku kepada pasar yang lebih luas.
CEO PT Bangja Inti Ingridien Oswaldo Natha Pringgondhani mengatakan keikutsertaan perusahaan dalam FI Asia Indonesia 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan portofolio produk sekaligus menunjukkan keberlanjutan riset dan pengembangan yang dilakukan perusahaan.
“Target utama kami adalah tetap eksis dan menunjukkan kepada pelanggan maupun kompetitor bahwa PT Bangja Inti Ingridien terus hadir dan berkembang. Kami juga ingin melakukan showcase produk terbaru sekaligus membuktikan bahwa riset dan pengembangan terus kami lakukan,” ujar Oswaldo saat ditemui di booth perusahaan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Dalam pameran tersebut, PT Bangja Inti Ingridien membawa empat lini portofolio utama untuk memenuhi kebutuhan industri makanan, minuman, hingga farmasi.
Lini pertama merupakan bahan tambahan pangan premium dari Jerman untuk industri permen dan cokelat, di antaranya Acacia Gum dan Licorice.
Lini kedua berupa karagenan dari GPI Canada. Produk olahan rumput laut tersebut antara lain menggunakan bahan baku yang bersumber dari perairan Indonesia.
Selanjutnya, perusahaan memperkenalkan lini pewarna pangan dari Turki yang ditujukan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman dengan standar internasional.
Adapun lini keempat merupakan Flavor House, yakni produk perisa yang dikembangkan dan diproduksi secara mandiri di fasilitas PT Bangja Inti Ingridien di Sidoarjo, Jawa Timur.
Produk flavor lokal menjadi salah satu fokus utama perusahaan karena seluruh proses pengembangan dilakukan melalui dukungan tim riset dan pengembangan (R&D) internal serta laboratorium perusahaan.
“Keunggulan utama kami ada pada produk flavor. Kami memiliki tim R&D sendiri, memproduksinya sendiri di Sidoarjo, dan didukung tim eksper laboratorium yang kompeten dan kreatif dalam memformulasi produk sesuai tren pasar,” kata Oswaldo.
Fokus Pasar Industri
PT Bangja Inti Ingridien menjalankan model bisnis Business-to-Business (B2B) dengan memasok bahan baku untuk kebutuhan industri makanan, minuman, dan farmasi di pasar nasional.
Selain melayani perusahaan swasta, perusahaan juga memiliki pengalaman memasok kebutuhan badan usaha milik negara (BUMN) dan lembaga riset pemerintah.
Di sektor farmasi, misalnya, PT Bangja Inti Ingridien pernah menjalin kerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, bahan baku perusahaan berasal dari berbagai negara produsen, antara lain China, India, Inggris, Spanyol, Belanda, Prancis, Kanada, Brasil, dan Amerika Serikat.
Meski sebagian bahan baku diperoleh dari luar negeri, proses formulasi, pengembangan, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan industri dilakukan di Indonesia.
Jamin Keamanan dan Kehalalan Produk
Selain inovasi, aspek keamanan pangan dan pemenuhan regulasi menjadi perhatian PT Bangja Inti Ingridien dalam menjalankan bisnis bahan baku pangan.
Oswaldo mengatakan seluruh bahan baku impor maupun produk yang diproduksi di dalam negeri harus memenuhi persyaratan dan sertifikasi yang berlaku.
“Seluruh bahan baku yang kami impor wajib memenuhi standar halal yang diakui BPJPH serta memiliki sertifikat keamanan pangan internasional. Kami memastikan seluruh produk yang kami distribusikan aman dan halal untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Ke depan, PT Bangja Inti Ingridien berharap FI Asia Indonesia dapat terus berkembang sebagai forum industri yang mempertemukan pelaku usaha, pelanggan potensial, serta mitra bisnis dari berbagai sektor.
Menurut perusahaan, keberadaan pameran seperti FI Asia Indonesia juga membuka ruang bagi pelaku industri bahan baku pangan untuk memperluas jejaring, memperkenalkan inovasi, dan menjajaki peluang kerja sama baru seiring pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia.
