KULON PROGO – 5/10/2026, Karyapost.com, Sebagai wilayah yang dikenal sebagai sentra penghasil cabai terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kalurahan Banaran sering kali dihadapkan pada tantangan klasik sektor pertanian: kelimpahan hasil panen yang diiringi fluktuasi harga tak menentu.

Menjawab tantangan tersebut, lembaga pemberdayaan masyarakat Tuwanggana Banaran mengambil langkah strategis dengan mendorong hilirisasi produk pertanian berbasis pemberdayaan warga.

Melalui program pengolahan pasca-panen, Tuwanggana Banaran memelopori lahirnya produk olahan bernilai tambah tinggi bernama ‘Sambal Desa’. Langkah inovatif ini digerakkan langsung oleh kelompok ibu-ibu setempat yang berhasil mengolah cabai segar menjadi berbagai varian rasa premium, seperti varian kecombrang, baby cumi, dan ragam varian lezat lainnya.

Ketua Pinutuwo Tuwanggana Banaran Priyo Santoso mengungkapkan bahwa inovasi ini telah digulirkan sejak satu tahun lalu sebagai respons atas dinamika pasar yang sering merugikan petani saat harga cabai anjlok.

“Meski tergolong sebagai usaha baru, kami berkomitmen menjaga standar produksi. Hasil olahan ‘Sambal Desa’ ini sudah masuk dalam kelas premium karena kami sangat mengedepankan kualitas bahan baku dan cita rasa. Meskipun kualitasnya tinggi, harganya tetap bersaing dan sangat terjangkau bagi masyarakat luas,” ujar Priyo Santoso.

Lebih lanjut, Priyo menekankan peran penting Tuwanggana Banaran sebagai lembaga pemberdayaan yang tidak hanya melihat potensi daerah, tetapi juga aktif merumuskan solusi nyata demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.

“Kalurahan Banaran memiliki hamparan tanaman cabai yang sangat luas dan merupakan sentra cabai terbesar di DIY. Tugas kami di lembaga pemberdayaan adalah membaca potensi besar ini, lalu mencarikan solusi pengembangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Lewat hilirisasi ‘Sambal Desa’, hasil panen petani tidak lagi terbuang sia-sia saat harga pasar turun,” tambahnya.

Melalui langkah hilirisasi pasca-panen ini, Tuwanggana Banaran tidak hanya berhasil menekan risiko kerugian petani akibat fluktuasi harga, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi kaum perempuan di Kalurahan Banaran. Produk ‘Sambal Desa’ kini siap menjadi ikon kuliner lokal yang mampu bersaing di pasar nasional.

Jurnalis Budi Legowo Santoso