JAKARTA – Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Rahmi Hidayati, menegaskan pentingnya pelestarian budaya Nusantara melalui penggunaan busana tradisional dan kain tenun daerah, termasuk tenun khas Nusa Tenggara Timur (NTT).
Komitmen tersebut disampaikan Rahmi di sela-sela Simposium Nasional bertajuk “Pesona Nusa Tenggara Timur” yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026). Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan lelang kain tenun NTT yang hasilnya akan disumbangkan untuk membantu masyarakat setempat yang sedang tertimpa musibah.
“Pada dasarnya kita bergerak untuk pelestarian budaya. Salah satu budaya yang kita perjuangkan untuk tetap ada di Indonesia ini antara lain soal busana,” kata Rahmi.
Menurut dia, kain tenun NTT memiliki keistimewaan tidak hanya dari sisi keindahan motif dan nilai budaya, tetapi juga dari proses pembuatannya yang membutuhkan keterampilan, ketekunan, serta waktu. Keunikan tersebut menjadikan tenun tradisional memiliki nilai ekonomi yang tinggi sekaligus menjadi bagian penting dari identitas masyarakat daerah.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat NTT, panitia mengadakan lelang kain tenun dengan harga penawaran mulai Rp2,5 juta. Padahal, kain sejenis di pasaran dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta.
Rahmi mengatakan, hasil lelang tersebut direncanakan disalurkan kepada masyarakat NTT yang sedang mengalami musibah. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bentuk solidaritas sekaligus menghubungkan upaya pelestarian budaya dengan aksi kemanusiaan.
“Nanti hasil lelang ini akan kita sumbangkan ke saudara-saudara kita di NTT yang sedang tertimpa musibah. Apa yang bisa kita bantu, kita bantu,” ujarnya.
Berkebaya dalam Aktivitas Sehari-hari
Selain mendorong pelestarian kain tradisional, Rahmi juga mengajak masyarakat membiasakan penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, kebaya bukan sekadar busana untuk menghadiri acara resmi atau kegiatan seremonial, melainkan bagian dari tradisi yang tetap relevan dalam kehidupan modern.
Rahmi dikenal kerap mengenakan kebaya saat melakukan berbagai aktivitas, termasuk mendaki gunung, bermain paralayang, mendayung di laut, hingga bersepeda.
Ia menuturkan, kebiasaannya mengenakan kebaya dalam berbagai kegiatan berawal ketika mendaki Gunung Rinjani. Saat itu, ia bertemu dengan rombongan perempuan Bali yang mendaki gunung sambil mengenakan kebaya untuk bersembahyang di pura.
Pengalaman tersebut mendorong Rahmi mencoba melakukan pendakian dengan mengenakan kebaya di Gunung Gede Pangrango. Dari pengalaman itu, ia semakin yakin bahwa busana tradisional dapat digunakan dalam beragam aktivitas.
“Dari situ saya coba mendaki Gunung Gede Pangrango pakai kebaya, dan ternyata bisa. Sejak saat itu saya berkebaya setiap hari,” tuturnya.
Rahmi menilai, penggunaan kebaya dan kain tradisional merupakan salah satu cara menjaga kesinambungan budaya yang diwariskan nenek moyang. Menurut dia, masyarakat pada masa lalu terbiasa menggunakan kain hasil tenunan dalam kehidupan sehari-hari, jauh sebelum industri pakaian modern berkembang seperti sekarang.
“Nenek moyang kita dulu kan kainnya ditenun, bukan diproduksi pabrik. Mereka ke sawah atau ke pasar naik sepeda juga pakai kebaya. Kami berharap apa pun bentuk budaya kita bisa kita lestarikan bersama-sama,” kata Rahmi.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mengenakan kebaya dan menggunakan kain tradisional dalam berbagai kesempatan. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus upaya menjaga keberlangsungan tradisi dan mendukung nilai ekonomi karya para perajin Nusantara.
