Jakarta, — Ketua Umum Asosiasi Internet of Things Indonesia (IoT Indonesia), Teguh Prasetya, menegaskan pentingnya penyusunan kaidah, standar, dan tahapan yang lebih rinci dalam pembangunan ekosistem IoT nasional, termasuk di sektor pemerintahan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam IPv6 Enhanced Net5.5G Conference – Transformasi Digital, sebuah forum strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan teknologi, regulator, dan pelaku industri telekomunikasi.Kamis (4/12/2025)

Teguh Prasetya menekankan bahwa akselerasi transformasi digital Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan roadmap bersifat umum, tetapi membutuhkan tahapan teknis yang terukur, detail, dan memiliki target implementasi yang jelas.

“Ekosistem IoT membutuhkan kaidah dan tahapan yang detail. Bukan hanya roadmap global atau romet secara umum, tetapi panduan yang operasional—mulai dari penyusunan standar, kesiapan infrastruktur, interoperabilitas, hingga target waktu. Pemerintah, industri, dan pelaku ekosistem harus bergerak dengan ritme yang sama,” tegas Teguh.

Konferensi IPv6 Enhanced Net5.5G sendiri menjadi momentum penting karena hadir di tengah percepatan kebutuhan jaringan IPv6, 5G Advanced/Net5.5G, dan konektivitas masif berbasis IoT. Menurut Teguh, era IoT yang semakin kompleks membutuhkan fondasi jaringan yang kuat, aman, dan berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa implementasi transformasi digital tidak boleh berhenti pada level strategi, tetapi harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah nyata yang dapat diukur keberhasilannya.

Teguh Prasetya berharap nanti bread peuple kita ini bisa di adopsi oleh Bapenas untuk menjadi bagian dari pada roadmap insfratruktur digital Indonesia kedepan.

Dalam forum tersebut, Teguh juga menyampaikan komitmen IoT Indonesia untuk terus menjadi jembatan antara pemerintah, industri, regulator, dan pelaku teknologi dalam menghadirkan ekosistem digital yang inklusif.