JAKARTA — Pemerintah Provinsi Maluku menawarkan sejumlah peluang investasi strategis kepada investor dan pelaku usaha internasional dalam forum Africa Asia Middle East Chambers of Commerce (AAMECC) Indonesia bertajuk “Harmony Indonesia” di ARTOTEL Living World, Kota Wisata Cibubur, Selasa (18/8/2026).
Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Umar Al Habsy, dalam forum tersebut memaparkan berbagai potensi ekonomi Maluku yang dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan melalui kerja sama dengan investor dari kawasan Afrika, Asia, dan Timur Tengah.
Forum Harmony Indonesia mengusung tema “Sinergitas Global, Kearifan Lokal untuk Indonesia Emas” dan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, serta mitra strategis dari berbagai negara.
Umar mengapresiasi AAMECC Indonesia yang telah membuka ruang dialog antara pemerintah daerah dengan mitra internasional. Menurut dia, forum tersebut menjadi momentum bagi Maluku untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperluas jaringan kerja sama ekonomi di tingkat global.
“Maluku berkomitmen membuka diri terhadap pasar dunia tanpa meninggalkan identitas budaya, kelestarian sumber daya alam, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Umar dalam pemaparannya.
Laut Jadi Kekuatan Ekonomi Maluku
Umar menjelaskan, karakter geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan membuat sektor kelautan dan ekonomi biru menjadi salah satu kekuatan utama pembangunan daerah.
Maluku memiliki luas wilayah sekitar 712.498 kilometer persegi, dengan sekitar 93,5 persen merupakan wilayah laut dan terdiri atas 1.422 pulau.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Maluku mengarahkan pembangunan pada pembentukan klaster pertumbuhan berbasis ekonomi biru, peningkatan konektivitas antarpulau, serta penguatan ketahanan terhadap risiko bencana.
Sejumlah proyek strategis juga disiapkan untuk menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi dan memperkuat rantai nilai daerah. Proyek tersebut antara lain pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub, pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta hilirisasi komoditas pala dan kelapa.
Empat Sektor Prioritas Investasi
Dalam forum tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku menawarkan empat sektor utama yang dinilai memiliki peluang besar bagi investor global.
Pertama, kelautan dan perikanan.
Maluku berada di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP 714, 715, dan 718. Wilayah ini memiliki potensi komoditas perikanan unggulan, terutama tuna, cakalang, dan tongkol.
Selain perikanan tangkap, Maluku memiliki potensi budidaya laut sekitar 158 ribu hektare, namun pemanfaatannya baru sekitar 3.816 hektare.
Peluang investasi terbuka mulai dari pengembangan industri pengolahan hasil laut, cold storage, pengalengan, hingga penguatan rantai dingin (cold chain).
Kedua, pertanian dan perkebunan.
Pemerintah daerah juga mendorong kebangkitan kembali Maluku sebagai Kepulauan Rempah melalui modernisasi rantai nilai komoditas pala, cengkeh, kelapa, kakao, dan sagu.
Pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi bahan mentah, tetapi juga pengolahan produk bernilai tambah melalui standardisasi, pengemasan, penguatan merek, serta perluasan akses pasar ekspor.
Ketiga, pariwisata berkelanjutan.
Maluku memiliki kawasan pariwisata sekitar 421 ribu hektare dalam RTRW. Sejumlah destinasi unggulan seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ngurbloat, Ngurtafur, dan Pulau Bair menjadi potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Investasi dapat diarahkan pada pembangunan akomodasi, homestay, transportasi wisata, ekonomi kreatif, hingga pengelolaan kawasan konservasi dengan tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Keempat, energi terbarukan.
Kondisi geografis Maluku yang terdiri atas ribuan pulau membutuhkan sistem energi yang fleksibel dan sesuai dengan karakter wilayah.
Karena itu, pemerintah daerah membuka peluang investasi pada energi surya, angin, hidro dan mikrohidro, biomassa, panas bumi, serta energi gelombang laut.
Konektivitas Jadi Penopang Investasi
Untuk mendukung aktivitas ekonomi dan investasi, Maluku saat ini memiliki 68 pelabuhan laut dan 13 bandar udara yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.
Umar menilai konektivitas antarpulau merupakan faktor penting dalam membangun ekosistem investasi yang terintegrasi. Jarak geografis antarpulau, kata dia, harus diubah menjadi kekuatan ekonomi melalui penguatan infrastruktur transportasi dan logistik.
“Jarak antarpulau tidak lagi menjadi hambatan, tetapi menjadi jembatan kekuatan ekonomi yang terintegrasi,” katanya.
Menurut Umar, investasi yang masuk ke Maluku diharapkan tidak berhenti pada penanaman modal semata. Pemerintah daerah menginginkan adanya transfer teknologi, perluasan akses pasar, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.
“Kami menginginkan investasi yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga membawa teknologi, akses pasar, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas masyarakat,” ujarnya.
Umar menegaskan Pemerintah Provinsi Maluku terbuka terhadap kemitraan dengan investor dan pelaku usaha internasional untuk mengembangkan potensi daerah secara berkelanjutan.
“Dari Maluku, kami membuka pintu kerja sama bagi dunia. Mari datang, berinvestasi, dan tumbuh bersama masyarakat Maluku,” kata Umar mengakhiri pemaparannya.
Dengan potensi kelautan, rempah, pariwisata, energi terbarukan, serta dukungan konektivitas yang terus dikembangkan, Maluku berupaya menempatkan sektor-sektor unggulan tersebut sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang baru bagi kerja sama investasi internasional.
