JAKARTA — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Dr. Eko Rudi Sudarto, S.I.K., M.Si., secara resmi membuka Turnamen Catur Ketua STIK CUP 2026 di Gedung Bhakti STIK, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Turnamen tersebut mempertemukan mahasiswa dan insan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Kegiatan digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan olahraga catur di lingkungan perguruan tinggi.
Pembukaan turnamen turut dihadiri Nanang Surahman Agung Pujalaksana Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi)
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB PERCASI) beserta jajaran, Wakil Ketua Umum PB PERCASI Irjen Pol. Dr. Ahmad Ramadhan, S.H., M.H., M.Si., serta perwakilan Kalemdiklat Polri Brigjen Pol. Aby Nursetyanto, S.H., S.I.K.
Hadir pula jajaran PERCASI, para Wakil Ketua (Warket) dan Direktur STIK, dosen dari unsur Polri maupun ASN STIK, para Kepala Bagian (Kabag), Kepala Lembaga (Kalem), Patun, serta seluruh personel STIK Lemdiklat Polri.
Dalam sambutannya, Irjen Pol. Eko Rudi Sudarto mengatakan olahraga catur tidak sekadar mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, ketenangan, strategi, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat, terutama ketika menghadapi tekanan.
Menurut dia, nilai-nilai tersebut relevan dengan pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa, termasuk dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
“Kemenangan dalam catur dibangun melalui kedisiplinan, ketenangan, strategi, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat di bawah tekanan. Hal ini sejalan dengan pelajaran dari para pendiri bangsa (founding fathers) seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Mereka bukan hanya matang dalam perjuangan, tetapi juga matang secara literasi—kuat membaca keadaan dan berani mengambil keputusan pada momentum yang tepat,” ujar Eko.

Ketua STIK juga menekankan pentingnya turnamen tersebut sebagai ruang membangun jejaring persahabatan dan modal sosial di antara mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Ia mengingatkan filosofi catur yang dikenal dengan semboyan Gens Una Sumus, yang berarti “Kita adalah Satu Keluarga”.
Menurut Eko, perjalanan sejarah catur menunjukkan bahwa olahraga tersebut mampu melampaui batas negara dan budaya. Catur berkembang dari Chaturanga di India, menyebar ke Persia dan dunia Arab, kemudian berkembang di Eropa hingga menjadi olahraga yang dimainkan secara global.
“Di atas papan catur kita bertanding sebagai lawan, namun di luar papan catur kita adalah sahabat, sesama anak bangsa, dan bagian dari keluarga besar Republik Indonesia,” katanya.
Ia juga berpesan kepada seluruh peserta agar menjunjung tinggi sportivitas selama mengikuti pertandingan. Peserta diharapkan mampu menerima kemenangan dengan rendah hati sekaligus menghadapi kekalahan dengan jiwa besar.
Lebih jauh, Eko berharap pola pikir yang dibangun melalui permainan catur dapat diterapkan mahasiswa dalam kehidupan akademik, organisasi, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Kemampuan memperhitungkan konsekuensi dari setiap langkah, menurut dia, merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Mari kita jadikan Turnamen Catur Ketua STIK CUP 2026 ini sebagai sarana memperkuat pembinaan olahraga catur, membuka ruang prestasi baru, sekaligus mempererat silaturahmi antara STIK Lemdiklat Polri, PERCASI, dan perguruan tinggi lainnya,” pungkasnya.
Pembukaan Turnamen Catur Ketua STIK CUP 2026 ditandai dengan pengucapan Bismillāhirrahmānirrahīm oleh Ketua STIK Lemdiklat Polri. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemukulan gong dan langkah pertama pertandingan yang disambut tepuk tangan para peserta dan tamu undangan.
Melalui turnamen tersebut, STIK Lemdiklat Polri berharap olahraga catur tidak hanya menjadi ajang kompetisi dan pencarian bibit berprestasi, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, sportivitas, kemampuan berpikir strategis, serta memperkuat persaudaraan antarmahasiswa dan insan akademisi di Indonesia.
