JAKARTA — Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produsen sekaligus eksportir briket arang kelapa terbesar dan terbaik di dunia. Produk olahan berbasis tempurung kelapa tersebut bahkan memiliki daya tawar kuat di pasar global.
Namun, di balik keberhasilan menguasai pasar internasional, industri briket arang kelapa nasional masih menghadapi persoalan klasik yang belum kunjung terselesaikan, yakni kepastian pasokan bahan baku di dalam negeri.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia (HIPBAKI) sekaligus CEO House of Charcoal Indonesia, Asep Jembar Mulyana, mengatakan kelangkaan bahan baku menjadi persoalan utama yang terus berulang dalam industri pengolahan kelapa.
“Kalau ditanya apa masalah di industri kelapa ini, jawabannya ada tiga: satu bahan baku, dua bahan baku, dan tiga bahan baku. Masalahnya selalu itu,” tegas Asep saat ditemui, Rabu (9/9/2026).
Menurut Asep, ketersediaan bahan baku sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan siklus musim. Ketika memasuki musim panen raya, pasokan kelapa melimpah sehingga harga di tingkat petani cenderung lebih murah.
Sebaliknya, ketika memasuki musim paceklik atau terjadi cuaca ekstrem, produksi kelapa dapat menurun drastis. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap industri pengolahan, termasuk produsen briket arang kelapa.
Persoalan pasokan menjadi semakin penting karena permintaan terhadap briket arang kelapa Indonesia terus berkembang di pasar global. Industri ini tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menciptakan nilai tambah bagi komoditas kelapa.
Salah satu produk samping yang kini memiliki nilai ekonomi tinggi adalah tempurung kelapa. Limbah yang sebelumnya kurang bernilai tersebut dapat diolah menjadi arang dan selanjutnya diproses menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri.
Asep menilai industri briket arang kelapa juga memiliki keunggulan dari sisi lingkungan karena memanfaatkan limbah tempurung kelapa sebagai bahan baku.
“Produk kita ini ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah tanpa harus menebang hutan, sehingga bisa menggantikan briket arang kayu. Jargon kita jelas: produk briket arang kelapa Indonesia menyelamatkan hutan dunia,” ujarnya.
HIPBAKI Dorong Tata Niaga Kelapa Diperkuat
Untuk mengatasi persoalan pasokan yang berulang, HIPBAKI mendorong pemerintah segera membangun tata niaga kelapa yang lebih terintegrasi dan memberikan kepastian bagi seluruh mata rantai industri, mulai dari petani hingga pelaku industri hilir.
Asep menilai pemerintah perlu memastikan agar kebutuhan industri dalam negeri tetap terpenuhi tanpa mengabaikan kepentingan petani sebagai produsen bahan baku.
Menurut dia, sejumlah rencana strategis pemerintah terkait hilirisasi kelapa juga perlu segera diwujudkan secara konkret. Salah satunya roadmap hilirisasi kelapa yang sebelumnya telah didorong oleh Bappenas.
HIPBAKI juga mengusulkan penerapan mekanisme buka-tutup ekspor bahan baku apabila kondisi pasokan domestik mengalami tekanan. Selain itu, pemerintah dinilai dapat mempertimbangkan pengenaan pungutan ekspor terhadap bahan mentah untuk mendorong pengolahan di dalam negeri.
” Pemerintah harus hadir membuat tata niaga yang berpihak kepada semua kepentingan.
Solusi seperti mekanisme buka-tutup ekspor bahan baku saat pasokan menipis atau penarikan pungutan ekspor bahan mentah itu sangat bagus, tapi kuncinya ada pada kepastian kapan regulasi tersebut dijalankan,” kata Asep.
Ia menegaskan, kepastian regulasi menjadi faktor penting bagi keberlanjutan investasi dan pengembangan industri briket arang kelapa nasional.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat industri briket arang kelapa dunia. Namun, potensi tersebut akan sulit dimaksimalkan apabila industri domestik terus menghadapi ketidakpastian pasokan bahan baku.
Karena itu, HIPBAKI berharap pemerintah segera menyusun kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan petani, industri pengolahan, eksportir, serta kebutuhan pasar global.
Dengan tata niaga yang jelas dan pasokan bahan baku yang terjamin, industri briket arang kelapa dinilai tidak hanya mampu mempertahankan dominasi Indonesia di pasar global, tetapi juga meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di dalam negeri.
