JAKARTA — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, memamerkan beragam produk kerajinan berbahan alami khas daerah dalam ajang Kriyanusa 2026 di Jakarta.
Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung adalah noken berbahan serat anggrek. Kerajinan tradisional khas Papua tersebut dibanderol mulai dari Rp2 juta hingga mencapai Rp30 juta per buah.
Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Deiyai Elizabeth Helena Aibekob mengatakan produk yang dibawa dalam pameran tersebut tidak hanya mengedepankan nilai estetika, tetapi juga mengangkat potensi bahan baku lokal yang tersedia di Kabupaten Deiyai.
“Kami dari Dekranasda Kabupaten Deiyai membawa aneka noken dengan bahan alami dari kulit kayu dan anggrek. Selain noken, ada juga sepatu, pakaian modifikasi modern seperti rompi dan topi, tas, hingga aksesori seperti tusuk konde, sirkam, dan anting. Semua bahan dasarnya asli dari Kabupaten Deiyai,” kata Elizabeth saat ditemui di lokasi Kriyanusa, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Elizabeth, noken berbahan serat anggrek dan noken baby menjadi dua produk yang paling banyak mendapat perhatian pengunjung selama pameran.
Ia menjelaskan harga noken serat anggrek yang mencapai puluhan juta rupiah dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku serta proses pembuatannya yang membutuhkan waktu cukup panjang.
“Harganya bisa Rp2 juta sampai Rp30 juta karena bahan dasarnya susah didapat, yaitu dari serat anggrek alami. Pembuatannya dirajut manual tanpa mesin dan prosesnya cukup lama, bisa sampai tiga bulan untuk satu noken anggrek,” ujarnya.
Proses pembuatan secara manual tersebut, kata dia, menjadi salah satu karakter utama yang melekat pada produk noken Deiyai. Para perajin harus mengolah bahan alami sebelum kemudian merajutnya menjadi noken dengan menggunakan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.
Elizabeth mengatakan keberadaan noken juga memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat Papua. Tradisi dan kerajinan noken dari Papua telah mendapatkan pengakuan internasional melalui UNESCO.
Menurut dia, pengakuan tersebut menjadi dorongan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus menjaga keberlanjutan kerajinan noken sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Hasil Seleksi Pesta Rakyat
Dalam keikutsertaan pada Kriyanusa 2026, Dekranasda Kabupaten Deiyai membawa sejumlah pelaku usaha kerajinan yang telah melalui proses seleksi di tingkat daerah.
Elizabeth mengatakan terdapat empat sanggar kerajinan dan satu UMKM yang mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran tersebut. Mereka merupakan para pemenang kompetisi kerajinan dalam Pesta Rakyat Kabupaten Deiyai yang digelar pada 18 Agustus 2026.
“Keikutsertaan kami dibantu dan didukung penuh oleh Bapak Bupati Deiyai. UMKM yang kami dampingi ke event Kriyanusa ini sudah melalui tahapan seleksi lewat Pesta Rakyat tanggal 18 Agustus. Para juara dari Pesta Rakyat itulah yang kami dampingi ke sini, terdiri dari empat sanggar dan satu UMKM,” katanya.
Ia berharap partisipasi dalam Kriyanusa dapat menjadi kesempatan bagi para perajin Deiyai untuk memperluas jaringan pemasaran dan mengenalkan produk kerajinan Papua Tengah kepada konsumen dari berbagai daerah.
Selain noken, berbagai produk seperti tas, sepatu, pakaian modifikasi, rompi, topi, serta aksesori turut dipamerkan untuk menunjukkan bahwa bahan-bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.
Elizabeth juga berharap pemerintah pusat terus memberikan ruang bagi pelaku UMKM dari daerah otonomi baru (DOB), khususnya di Papua, untuk mengikuti pameran dan kegiatan promosi produk di tingkat nasional maupun internasional.
“Harapan kami ke depannya, daerah-daerah otonomi baru seperti kami agar semakin diperhatikan dan terus diberi kesempatan untuk bisa bergabung di event-event nasional seperti ini,” pungkasnya.
