JAKARTA — PT J-Resources memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program pembinaan petani kakao di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang mengusung tema “Kakao Membawa Perubahan”, berhasil meraih apresiasi PPM dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2026.Senin (02/11/2026)
Program tersebut dipamerkan dalam ajang Minerba CONVEX 2026 sebagai salah satu upaya perusahaan menciptakan nilai sosial dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor pertanian berkelanjutan.
Presiden Direktur J-Resources, Anang Rizkani Noor, mengatakan program pembinaan petani kakao itu dirancang dengan mengedepankan empat pilar utama, yakni pemberdayaan masyarakat, pertanian inklusif, pertanian berkelanjutan, dan regenerasi petani muda.
“Fokus kami adalah penciptaan nilai sosial. Melalui pendekatan inklusif dan berkelanjutan, kami ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong generasi muda agar tertarik mengembangkan pertanian kakao,” ujar Anang di sela-sela pameran Minerba CONVEX 2026.
Program yang dimulai sejak 2019 tersebut kini membina 32 kelompok tani dengan total 320 anggota. Mereka mengelola sekitar 100 hektare lahan binaan perusahaan. Selain itu, J-Resources turut mendampingi masyarakat yang mengelola sekitar 200 hektare lahan secara swadaya, sehingga total area perkebunan kakao yang mendapat pembinaan mencapai sekitar 300 hektare.
Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperluas akses partisipasi masyarakat dalam kegiatan pertanian. Salah satu pendekatannya adalah pertanian inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas dalam kegiatan produktif, termasuk penerapan teknik sambung pucuk tanaman kakao.
Perusahaan juga mendorong penggunaan pupuk organik untuk menjaga kualitas tanah dan mendukung keberlanjutan budidaya. Pada saat yang sama, regenerasi petani menjadi perhatian penting agar usaha perkebunan kakao tetap berkembang di tengah tantangan minimnya keterlibatan generasi muda.
Anang menyebutkan, proporsi petani muda di Sulawesi Utara saat ini baru sekitar 2 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan sektor pertanian sekaligus peluang untuk memperkenalkan pertanian kakao sebagai usaha produktif yang memiliki prospek ekonomi.
Dari sisi ekonomi, program pembinaan tersebut mulai memberikan dampak terhadap pendapatan keluarga petani. Dengan pola panen rutin setiap dua minggu, sejumlah keluarga petani dilaporkan mampu memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp30 juta hingga Rp45 juta per bulan.
Peningkatan pendapatan itu turut membuka peluang bagi keluarga petani untuk meningkatkan kualitas hidup, termasuk membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi. Bahkan, sebagian petani disebut telah mampu menunaikan ibadah umrah.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan komoditas perkebunan dapat menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila didukung pendampingan, peningkatan keterampilan, dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan.
Meski demikian, J-Resources menegaskan bahwa keberhasilan program PPM tidak semata-mata diukur dari jumlah kelompok tani yang dibina maupun peningkatan pendapatan masyarakat. Perusahaan menempatkan kemandirian petani sebagai tujuan akhir program.
Karena itu, pendampingan akan dilakukan secara bertahap dengan mengurangi keterlibatan perusahaan seiring meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha pertanian secara mandiri.
“Indikator keberhasilan program pemberdayaan bukan ketika masyarakat terus bergantung pada perusahaan, melainkan ketika mereka sudah mampu mandiri dan kami dapat melepasnya,” kata Anang.
Melalui program “Kakao Membawa Perubahan”, J-Resources berharap pengembangan pertanian kakao di Bolaang Mongondow dapat terus memperkuat ekonomi lokal, memperluas kesempatan kerja yang inklusif, serta mendorong tumbuhnya generasi petani muda di Sulawesi Utara.
