JAKARTA – Yayasan Bless Indo Harapan atau House of Hope meraih penghargaan dalam ajang Innovation Technology for Social & Environmental Awards (InTechSEA) 2026 atas komitmennya memberdayakan individu dengan disabilitas mental intelektual agar memiliki akses dan kesempatan berkarier di dunia profesional.
Penghargaan tersebut diterima dalam acara InTechSEA 2026 yang digelar di Four Seasons Hotel Jakarta, Senin (14/9/2026). Tahun ini, InTechSEA mengusung tema “Collaborative Innovation for a Sustainable and Inclusive Future”.
Salah satu perhatian dalam penyelenggaraan InTechSEA 2026 adalah kategori GetSi (Gender Equality and Social Inclusion) yang untuk pertama kalinya masuk dalam rangkaian penghargaan tersebut. Kategori ini memberikan apresiasi terhadap berbagai inisiatif yang mendorong terciptanya lingkungan yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan.
Founder and CEO House of Hope, Irene Ridjab, mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterima. Menurut dia, apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi House of Hope untuk terus memperluas akses dan kesempatan bagi individu berkebutuhan khusus.
“House of Hope merupakan wadah pemberdayaan terhadap individu berkebutuhan khusus dengan mental intelektual seperti autis, Down syndrome, cerebral palsy, hingga ADHD. Tujuannya adalah melatih dan menempatkan mereka di dunia kerja profesional serta masyarakat,” ujar Irene seusai acara InTechSEA 2026 di Four Seasons Hotel Jakarta, Senin (14/9/2026).
Telah Salurkan Delapan Klien ke Dunia Kerja
Irene mengatakan House of Hope telah berdiri hampir empat tahun di Bandung. Selama menjalankan program pemberdayaan, lembaga tersebut telah membina dan menyalurkan sedikitnya delapan individu berkebutuhan khusus untuk bekerja di sejumlah perusahaan.
Beberapa di antaranya telah bekerja di PT Eigerindo MPI, PT Hakuhara, serta salah satu perusahaan berstatus Tbk di Jakarta.
“Saat ini ada yang bekerja di Jakarta pada perusahaan Tbk, lalu di Bandung ada di PT Eigerindo dan PT Hakuhara. Dalam waktu dekat, dua klien kami juga akan masuk ke PT Guardian Pharmatama di Citeureup serta menyalurkan ke Universitas Tarumanagara,” jelas Irene.
Menurut dia, proses pemberdayaan yang dilakukan House of Hope tidak semata-mata berorientasi pada penempatan kerja. Para klien juga mendapatkan pembekalan agar mampu beradaptasi dengan lingkungan profesional, menjalankan tugas, membangun komunikasi, serta meningkatkan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dengan pendekatan tersebut, House of Hope berupaya memastikan individu berkebutuhan khusus tidak hanya memperoleh kesempatan untuk bekerja, tetapi juga mampu berkontribusi secara optimal sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
Dorong Dunia Usaha Buka Akses Kerja Inklusif
Irene berharap penghargaan InTechSEA 2026 dapat meningkatkan perhatian publik sekaligus mendorong semakin banyak perusahaan membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Dia menilai akses terhadap pekerjaan masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia.
“Harapan saya tentu ingin mengajak lebih banyak pihak lagi untuk memberikan ruang dan kesempatan kerja bagi individu berkebutuhan khusus. Sebagaimana disampaikan Komisioner Komnas Disabilitas, jumlah penyandang disabilitas cukup besar, namun baru sekitar 1,7 persen yang sudah bekerja,” ungkapnya.
Karena itu, House of Hope terus mendorong kolaborasi dengan dunia usaha, lembaga pendidikan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar semakin banyak individu berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan memasuki dunia kerja.
House of Hope juga menyebut telah memiliki akreditasi resmi serta kelengkapan perizinan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Program pemberdayaan dijalankan melalui dukungan dan koordinasi dengan berbagai lembaga terkait di bidang disabilitas.
Bagi House of Hope, kesempatan bekerja bukan sekadar persoalan memperoleh penghasilan. Lebih dari itu, akses terhadap pekerjaan merupakan bagian penting dari proses membangun kemandirian, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperkuat penerimaan masyarakat terhadap individu penyandang disabilitas.
Melalui program pemberdayaan dan penempatan kerja tersebut, House of Hope berharap semakin banyak perusahaan melihat penyandang disabilitas bukan dari keterbatasannya, melainkan dari kemampuan, potensi, dan kontribusi yang dapat diberikan di lingkungan profesional.