KULON PROGO — Karyapost.com, Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai Mushola Aisyiyah Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo pada Sabtu (24/10/2026).
Bangunan bersejarah yang dikenal luas masyarakat sebagai bekas kediaman almarhumah Ibu PAR AR tersebut menjadi tempat dilaksanakannya pengajian sekaligus penyerahan santunan kepada 52 anak yatim se-Kalurahan Banaran.
Kegiatan bernuansa kepedulian sosial ini dihadiri oleh jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Galur, jimpinan PRM dan PRA, pengurus LKSA Aisyiyah Banaran, serta para wali murid bersama anak-anak penerima santunan.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Dwi Maryanto—sosok dai muda yang tengah menyedot perhatian publik dan kerap dijuluki sebagai ustadz masa depan—mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan semangat kepedulian terhadap anak-anak yatim di sekitar mereka.
“Anak-anak yatim bukan hanya untuk kita santuni, tetapi harus kita dampingi dan perhatikan masa depannya. Dengan pendampingan yang konsisten dan penuh kasih sayang, kita turut membukakan jalan agar mereka mampu meraih cita-cita yang diimpikan,” ujar Ustadz Dwi Maryanto di hadapan para jamaah.
Sementara itu, Ketua LKSA Aisyiyah Banaran, Hj. As’adah, menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada para donatur serta seluruh pihak yang konsisten mendukung program-program sosial LKSA.
“Dukungan dan kepercayaan dari para donatur menjadi energi utama bagi kami untuk terus hadir mendampingi anak-anak. Semoga kebaikan ini menjadi amal jariyah yang berlipat ganda,” tutur Hj. As’adah.
Sebagai bentuk komitmen dalam merawat nilai-nilai keteladanan serta mendukung keberlanjutan program kawasan spiritual dan sejarah di wilayah setempat, LKSA Aisyiyah Banaran tidak hanya menyerahkan santunan berupa dana/bantuan, tetapi juga membagikan kaos berlogo Kampung Pak AR kepada para penerima manfaat.
Pembagian kaos ini menjadi simbol dukungan nyata terhadap penguatan dan sosialisasi kegiatan Kampung Pak AR di Kalurahan Banaran.
Melalui perpaduan antara siraman rohani, aksi nyata santunan, dan penguatan nilai sejarah lokal, kegiatan ini diharapkan dapat terus memantik kesadaran kolektif warga untuk saling merangkul, memuliakan anak yatim, serta bersama-sama membangun lingkungan masyarakat yang religius dan berkemajuan.
Jurnalis Budi Legowo Santoso
