JAKARTA — Industri hilir timah nasional terus memperkuat daya saing untuk menembus pasar global melalui integrasi operasional dari sektor hulu hingga hilir. Dalam ajang Minerba CONVEX 2026, pelaku industri timah lokal memaparkan kapabilitas produksi sekaligus target ekspansi untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Partisipasi dalam pameran yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) tersebut menjadi momentum bagi industri untuk memperkenalkan kemampuan produksi nasional, memperluas jaringan bisnis, serta mendorong sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat hilirisasi mineral.

Marketing Director perusahaan, Rudyanto, mengatakan perusahaan yang sepenuhnya dimiliki pihak lokal Indonesia itu memiliki rantai operasional terintegrasi, mulai dari penambangan laut menggunakan kapal hisap, pengolahan melalui fasilitas smelter di Batam, hingga kepemilikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah Kepulauan Riau.

“Event ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk memperkenalkan diri bahwa Indonesia memiliki industri hilir timah yang solid dan berdaya saing,” ujar Rudyanto di sela-sela pameran Minerba CONVEX 2026.

Menurut dia, integrasi kegiatan usaha tersebut menjadi modal penting untuk mendukung agenda hilirisasi pemerintah sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas timah di dalam negeri.

Perusahaan juga menetapkan target strategis pada 2027 untuk menjadi produsen methyl tin stabilizer terbesar kedua di dunia. Produk turunan berbahan baku timah tersebut merupakan bahan penstabil yang digunakan dalam industri pengolahan material, termasuk PVC.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan berupaya meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas penetrasi ke pasar ekspor. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam industri pengolahan timah bernilai tambah dan meningkatkan kontribusi produk hilir Indonesia di pasar internasional.

Perizinan Ekspor Jadi Tantangan

Di tengah peluang ekspansi pasar global, industri hilir timah masih menghadapi kendala administratif, terutama dalam pengurusan Persetujuan Ekspor (PE) untuk sejumlah produk turunan, termasuk solder.

Proses perizinan yang melibatkan sejumlah kementerian serta ketentuan perdagangan dinilai menjadi tantangan bagi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan ekspor secara efektif.

Kepastian dan penyederhanaan prosedur perizinan dinilai penting agar industri hilir dapat memanfaatkan peluang pasar internasional secara optimal. Di sisi lain, dukungan kebijakan yang terkoordinasi juga dibutuhkan untuk memastikan agenda hilirisasi tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi berlanjut pada perluasan akses pasar.

Melalui partisipasi di Minerba CONVEX 2026, perusahaan berharap dapat memperkuat komunikasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta pemangku kepentingan terkait guna mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi industri.

“Harapan kami dari pameran ini adalah membangun hubungan yang lebih dekat dengan Kementerian ESDM. Kami ingin bersama-sama memikirkan formula dan kebijakan terbaik demi kemajuan industri pertambangan nasional, khususnya sektor logam timah,” kata Rudyanto.

Penguatan koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif bagi pengembangan industri hilir timah. Dengan dukungan regulasi yang jelas, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan pasar ekspor, industri pengolahan timah nasional berpeluang memperbesar nilai tambah serta memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.