Jakarta,karyapost.com – Rektor Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Prof Dr H Sumaryoto, mengatakan bahwa kasus kekerasan yang terjadi di sekolah tidak boleh dipandang sebagai sebuah kasus semata. Fenomena tersebut juga harus dilihat sebagai kesalahan sistem pendidikan.
Kekerasan dalam dunia pendidikan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan. Namun ada juga yang mengatakan bahwa kekerasan yang wajar untuk tujuan mendidik boleh saja dilakukan. Sayang hal ini belum ada aturan tertulis yang menopangnya. Rabu (19/2/2020)
Berbeda dengan zaman 90an di mana ketika guru melakukan kekerasan pada anak didiknya berarti anak tersebut memang melakukan kesalahan
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara memperbaiki kesalahan sistem pendidikan ini? Jawabannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang positif di sekolah.
“Kemampuan sosial emosi mestinya menjadi agenda utama pendidikan Indonesia, melalui penciptaan ekosistem sekolah yang positif, aman, menyenangkan dan memanusiakan,” ujarnya
Guru dan siswa adalah dua elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Hubungan antara keduanya kadang berjalan harmonis, namun tidak jarang juga bersifat kontradiktif.
Di sinilah kemudian tugas para pengajar harus mulai di-setting ulang. melakukan transformasi pendidikan yang membuat para siswanya senang dan nyaman di sekolah. Dengan menanamkan nilai-nilai empati pada seluruh elemen sekolah, maka tindak kekerasan di sekolah dapat dipangkas.
Menurut Rektor Unindra Prof Dr H Sumaryoto, antara semua pihak di sekolah seharusnya menjalin komunikasi dengan baik. Harus ada kesepakatan yang mengikat semuanya dalam bentuk kode etik. Kode etik sekolah dibuat bersama-sama antara sekolah, anak, dan orang tua agar tercipta ekosistem yang terbuka. Kode etik inilah yang nantinya digunakan apabila terjadi permasalahan di sekolah.
Sayangnya, guru sebagai pihak yang superior seringkali melakukan tindak kekerasan terhadap siswa, dengan alasan ‘tegas’. Mirisnya lagi, kadang oknum guru melakukan tindak kekerasan dengan dalih untuk menegakkan kedisiplinan bagi siswa di sekolah.
“Kebanyakan orang dewasa termasuk guru seringkali enggan untuk menurunkan ego dan mengakui kesalahan di depan anak-anak karena merasa superioritasnya akan hilang. Padahal dengan meminta maaf ketika melakukan kesalahan, koneksi akan semakin terbangun dan anak-anak akan belajar bahwa melakukan kesalahan itu tidak apa-apa asalkan bertanggung jawab dan mengakuinya,” tandasnya
Di Indonesia, peran guru seringkali hanya sekadar mengajar saja. Padahal, sebetulnya yang terpenting dari aspek pendidikan di sekolah justru membangun koneksi dengan anak dalam level yang sama dan manusiawi.