Jakarta – Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI) resmi menggelar Musyawarah Besar (Mubes) VI di Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Forum tertinggi organisasi tersebut menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi program kerja, menyusun arah kebijakan organisasi ke depan, sekaligus memilih kepemimpinan baru yang akan melanjutkan estafet perjuangan FORKABI.
Ketua Umum DPP FORKABI, Abdul Ghoni, menegaskan bahwa Mubes VI merupakan bagian dari proses regenerasi organisasi yang harus berjalan secara demokratis, terbuka, dan memberikan ruang yang sama bagi seluruh kader untuk berpartisipasi dalam menentukan masa depan organisasi.
Menurutnya, masa kepemimpinannya akan segera berakhir sehingga seluruh anggota dan pengurus yang memiliki kapasitas serta komitmen terhadap organisasi dipersilakan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum FORKABI.
“Sebentar lagi saya akan memasuki masa demisioner. Karena itu, saya terbuka bagi siapa pun anggota maupun pengurus FORKABI yang memiliki keinginan untuk maju sebagai calon Ketua Umum. Silakan, saya memberikan kesempatan seluas-luasnya,” ujar Abdul Ghoni.
Ia menegaskan bahwa tidak ada pembatasan bagi kader-kader terbaik FORKABI untuk tampil dalam kontestasi kepemimpinan. Organisasi, kata dia, harus menjadi wadah yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang memiliki integritas, kapasitas, serta visi yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain membahas regenerasi kepemimpinan, Abdul Ghoni juga mengingatkan kembali sejarah lahirnya FORKABI yang berakar dari semangat reformasi. Organisasi tersebut dibentuk untuk memperkuat posisi masyarakat Betawi dalam pembangunan daerah sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial dan budaya.
“FORKABI lahir dari reformasi. Kami hadir untuk menyatukan kekuatan masyarakat Betawi dan membantu pemerintah dalam menjalankan pembangunan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Ghoni turut menyoroti pentingnya peningkatan literasi politik di kalangan masyarakat Betawi. Menurutnya, sejak era reformasi, keterlibatan masyarakat dalam dunia politik semakin terbuka sehingga diperlukan pemahaman yang baik mengenai proses demokrasi dan kebijakan publik.
Ia menilai politik tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang tabu karena berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat lahir melalui proses politik. Oleh sebab itu, masyarakat Betawi perlu meningkatkan kesadaran dan partisipasi agar dapat berkontribusi secara positif dalam pembangunan bangsa dan daerah.
Ke depan, FORKABI berencana memperluas program pembinaan, pendidikan masyarakat, serta sosialisasi organisasi ke berbagai wilayah Jabodetabek yang masih memiliki komunitas Betawi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat eksistensi organisasi sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.
Meski lahir dari semangat kebersamaan masyarakat Betawi, Abdul Ghoni menegaskan bahwa FORKABI merupakan organisasi yang terbuka bagi seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang suku maupun daerah asal.
“FORKABI bukan hanya milik orang Betawi. Masyarakat Jawa, Sunda, maupun dari daerah lain yang memiliki semangat yang sama untuk berkontribusi dan membangun organisasi ini dipersilakan bergabung,” tegasnya.
Sementara itu, Musyawarah Besar VI FORKABI secara resmi dibuka oleh Uus Kuswanto selaku Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas kontribusi FORKABI dalam menjaga identitas budaya Betawi sekaligus mendukung pembangunan ibu kota.
Menurut Uus, FORKABI merupakan salah satu organisasi masyarakat yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat dan selama ini berperan menjaga harmoni sosial di Jakarta. Ia juga menyampaikan salam serta penghormatan dari Gubernur DKI Jakarta kepada seluruh peserta Mubes.
Uus menilai berbagai dinamika yang terjadi dalam organisasi merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh elemen FORKABI tetap menjaga persatuan dan soliditas organisasi setelah proses musyawarah selesai dilaksanakan.
“Dinamika yang terjadi di FORKABI ini bisa dilalui dengan baik. Itulah namanya demokrasi. Yang penting pada akhirnya nanti adalah kita menjadi satu kesatuan organisasi yang sama-sama membangun Jakarta menjadi kota global dan kota yang aman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Jakarta tidak dapat berkembang tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan Betawi. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan FORKABI dinilai sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah transformasi Jakarta sebagai kota global.
Lebih lanjut, Uus menegaskan bahwa budaya Betawi memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan Jakarta. Pengakuan terhadap budaya Betawi, menurutnya, kini semakin kuat setelah memperoleh landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang menempatkan budaya Betawi sebagai budaya inti Jakarta.
Melalui penyelenggaraan Mubes VI ini, FORKABI diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan baru yang kuat, menghasilkan program kerja yang adaptif terhadap perkembangan zaman, serta semakin mempererat kemitraan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kelestarian budaya Betawi dan membangun Jakarta yang inklusif, aman, maju, dan berdaya saing global.