JAKARTA — PT Nurman Mitra Sentosa (NMS) memperkuat kontribusinya terhadap industri energi nasional dengan mengembangkan produk dan layanan manufaktur untuk mendukung sektor minyak dan gas (migas) serta panas bumi (geothermal).
Perusahaan yang telah beroperasi sejak 2002 tersebut menempatkan kemampuan manufaktur lokal sebagai salah satu kekuatan utama untuk menjawab kebutuhan industri energi, sekaligus mendorong produk Indonesia agar mampu bersaing di pasar internasional.
Deputy Director PT Nurman Mitra Sentosa, Moses L Sitanggang, mengatakan komitmen tersebut disampaikan dalam gelaran The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (19/8/2026).
“Kami bekerja di bidang peralatan lapangan, khususnya untuk kebutuhan wellhead, tubing, dan berbagai equipment. Kami juga menyediakan jasa yang mendukung kebutuhan industri, termasuk pekerjaan pengelasan dan layanan teknis lainnya sesuai permintaan pelanggan,” ujar Moses.
IIGCE 2026 yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 mengusung tema “Energy Self-Sufficiency for a Stronger Indonesia: Geothermal as the Baseload Driving Energy Transition and Security”. Pameran dan konferensi tersebut menjadi ajang bagi pelaku industri untuk memperkenalkan teknologi, produk, serta kemampuan manufaktur dalam mendukung pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
Dorong Produk Indonesia Berstandar Global
Moses menegaskan NMS tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berupaya meningkatkan daya saing produk lokal agar dapat diterima di pasar internasional.
Menurut dia, produk yang dibuat di Indonesia harus mampu memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan industri global.
“Keunggulan kami terutama adalah produk lokal. Kami merupakan brand Indonesia dan investasi kami juga berasal dari orang Indonesia. Kami ingin memajukan industri dengan membawa bendera Merah Putih. Namun produk lokal tersebut tetap kami buat sesuai standar sehingga dapat diterima secara internasional,” katanya.
Ia menilai penguatan manufaktur dalam negeri memiliki arti strategis bagi industri energi. Kemampuan memproduksi peralatan secara lokal dapat memperkuat rantai pasok sekaligus memberikan alternatif bagi perusahaan pengguna dalam memperoleh peralatan dan layanan teknis.
NMS saat ini menyediakan berbagai kebutuhan peralatan lapangan untuk sektor migas dan geothermal. Produk tersebut antara lain geothermal wellhead, gate valve, liner adapter, casing accessories, landing equipment, casing clamp, split collar, dan casing running equipment.
Selain manufaktur, perusahaan juga menyediakan layanan pengelasan, machining, pembuatan ulir, well control, perbaikan peralatan, serta pekerjaan khusus sesuai kebutuhan pelanggan.
Kembangkan Produk Valve
Dalam IIGCE 2026, NMS turut menampilkan sejumlah produk dan solusi yang ditujukan untuk kebutuhan fasilitas lapangan geothermal.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah valve yang disebut baru memperoleh sertifikasi FDA pada Februari 2026. Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari langkah perusahaan dalam memperluas kemampuan dan penerimaan produknya.
Di sisi produksi, NMS juga mengedepankan kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan dalam waktu yang relatif kompetitif.
Moses mengatakan perusahaan dapat memproduksi sekitar dua set peralatan dalam waktu kurang lebih empat bulan.
“Kami mampu memproduksi sekitar dua set dalam waktu kurang lebih empat bulan. Jadi ketika ada kebutuhan, kami sudah ready to produce. Kami juga terus menjaga kualitas tinggi dalam proses manufaktur,” ujarnya.
Kemampuan tersebut, kata Moses, menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memberikan kepastian kepada pelanggan, terutama untuk kebutuhan proyek yang membutuhkan peralatan dengan spesifikasi tertentu.
Bidik Peluang Pengembangan Geothermal
Moses melihat pengembangan energi panas bumi di Indonesia sebagai peluang bagi tumbuhnya industri penunjang energi di dalam negeri.
Menurut dia, peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan geothermal akan membutuhkan dukungan berbagai peralatan, teknologi, jasa teknik, dan manufaktur lokal.
Karena itu, NMS berupaya mengambil bagian dalam ekosistem tersebut melalui penyediaan produk dan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan proyek.
Perusahaan juga telah mengantongi sejumlah sertifikasi dan standar industri, antara lain API Q1, API 5B, API 6A, API 6D, ISO 9001:2015, ISO 14001:2015, serta ISO 45001:2018.
Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kualitas produk, pengelolaan lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja dalam kegiatan operasionalnya.
Moses berharap dukungan berbagai pihak terhadap industri manufaktur lokal terus diperkuat. Menurutnya, keberhasilan membangun industri energi nasional tidak hanya ditentukan oleh investasi pada proyek energi, tetapi juga oleh kemampuan industri dalam negeri memasok kebutuhan pendukungnya.
“Kami berharap seluruh pihak dapat terus saling mendukung, terutama dalam memperkuat local manufacturing. Dengan dukungan bersama, industri manufaktur nasional bisa semakin maju dan semakin berjaya,” pungkasnya.
Keikutsertaan NMS dalam IIGCE 2026 menunjukkan semakin strategisnya peran manufaktur lokal dalam mendukung pengembangan panas bumi. Produk dan layanan dalam negeri yang memenuhi standar internasional berpotensi memperkuat rantai pasok industri, meningkatkan daya saing perusahaan nasional, sekaligus membuka peluang ekspor.
Di tengah upaya Indonesia mempercepat transisi energi dan meningkatkan pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi rendah emisi, penguatan industri penunjang di dalam negeri menjadi bagian penting untuk membangun ketahanan energi sekaligus meningkatkan kemandirian industri nasional.
