JAKARTA — Gereja HKBP Menteng sukses menggelar Dialog Kebangsaan sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Sabtu (22/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan strategis dan ide konstruktif untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan bangsa di tengah dinamika perubahan zaman serta persaingan global.

Dialog Kebangsaan itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari jemaat, kalangan profesional, akademisi hingga perwakilan pemerintah. Forum ini sekaligus diarahkan untuk membekali masyarakat agar mampu melihat berbagai tantangan secara lebih luas sekaligus memanfaatkan peluang yang tersedia.

Wakil Ketua Panitia HUT ke-81 RI HKBP Menteng, Tonggo Freddy Situmorang, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah pembekalan bagi jemaat dan warga Jakarta dalam menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

“Melalui dialog ini, kami ingin menggali masukan dari berbagai pihak, baik jemaat, profesional, maupun pemerintah. Kami melihat pencapaian yang telah diraih oleh Pemprov DKI Jakarta dan bagaimana kita sebagai warga jemaat serta warga Jakarta dapat mempersiapkan diri,” ujar Tonggo kepada wartawan.

Menurut dia, berbagai program pemerintah, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, perlu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, gereja, keluarga, dan berbagai elemen lainnya menjadi penting untuk membangun ketahanan sosial.

Keluarga Jadi Fondasi Ketahanan Bangsa
Selain membahas tantangan bangsa dalam konteks yang lebih luas, Dialog Kebangsaan HKBP Menteng juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan keluarga.

Sejumlah narasumber turut dihadirkan dalam forum tersebut, di antaranya Letjen TNI (Purn.) Richard Tampubolon bersama Martin.

Keduanya membagikan pandangan dan pengalaman mengenai tantangan pengasuhan anak (parenting) serta strategi membangun ketahanan keluarga di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Tonggo menegaskan, keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling fundamental dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.

“Keluarga adalah elemen terkecil, namun paling vital. Jika keluarganya kuat, maka bangsanya juga akan kuat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, konsep keluarga tangguh atau resilient family tidak hanya berkaitan dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan ekonomi. Ketangguhan juga tercermin dari kemampuan setiap anggota keluarga beradaptasi, berkomunikasi, mengambil keputusan, serta merespons tekanan dan berbagai situasi sulit.

“ Keluarga yang kuat adalah keluarga yang memiliki ketahanan (resilience) dalam situasi apa pun. Belajar dari pengalaman pandemi COVID-19 lalu, kondisi ketidakpastian bisa datang kapan saja. Namun, selama keluarga tetap memiliki harapan, semangat positif, serta respons yang bijak dalam menghadapi masalah, keluarga tersebut akan mampu bertahan dan bangkit,” kata Tonggo.

Ditutup dengan Dialog Kebangsaan
Dialog Kebangsaan tersebut menjadi puncak sekaligus closing event seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 RI yang digelar Panitia HUT ke-81 RI HKBP Menteng.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah dimulai dengan turnamen olahraga padel pada 1 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Upacara Bendera, Kebaktian Kebangsaan, dan Fun Games pada 17 Agustus 2026.

Rangkaian tersebut tidak hanya dirancang sebagai perayaan momentum kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan, persaudaraan, kepedulian sosial, dan semangat kebangsaan di lingkungan jemaat HKBP Menteng serta masyarakat sekitar.

Panitia dan jemaat HKBP Menteng berharap semangat yang dibangun melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat terus berlanjut setelah perayaan HUT RI berakhir. Jejaring, informasi, dan kolaborasi yang telah terbentuk diharapkan semakin mempererat persatuan serta menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan mengangkat pentingnya keluarga sebagai fondasi ketahanan bangsa, Dialog Kebangsaan HKBP Menteng juga menegaskan bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan negara, tetapi turut ditentukan oleh kekuatan masyarakat yang dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga.