JAKARTA — Konsortium Pendidikan Islam International (KOPIN) mendorong transformasi lembaga pendidikan Islam di Indonesia agar mampu meningkatkan kualitas dan bersaing di tingkat global.
Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kualitas pendidik dan peserta didik, peningkatan standar kelembagaan, serta perluasan kolaborasi dengan institusi pendidikan internasional.
K
etua Umum KOPIN Dr. Ali Saman Hasan mengatakan, KOPIN dibentuk pada September 2024 sebagai wadah kolaborasi lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Organisasi tersebut secara khusus mendorong sekolah dan perguruan tinggi yang telah memiliki akreditasi A untuk meningkatkan standar pendidikannya menuju level internasional.
“KOPIN adalah wadah untuk pendidikan-pendidikan Islam bertransformasi menjadi pendidikan internasional. Banyak lembaga yang sudah meraih akreditasi A, lalu bingung mau melangkah ke mana lagi. Di sinilah KOPIN hadir untuk memfasilitasi kolaborasi dengan lembaga internasional seperti Cambridge, International Baccalaureate (IB), hingga melakukan benchmarking ke negara-negara maju seperti China, negara-negara Eropa, dan Arab Saudi,” ujar Ali Saman di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Saat ini, KOPIN telah memiliki sekitar 76 anggota. Selain itu, lebih dari 200 lembaga pendidikan disebut sedang dalam proses bergabung.
Menurut Ali, akreditasi A menjadi salah satu prioritas dalam membangun sekolah berstandar internasional. Namun, lembaga pendidikan yang masih memiliki akreditasi B maupun C tetap dapat memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kualitas sebelum diarahkan menuju standar yang lebih tinggi.
Dorong Transformasi Guru, Dosen, dan Mahasiswa
KOPIN tidak hanya menyasar lembaga pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga perguruan tinggi. Transformasi tenaga pendidik, baik guru maupun dosen, serta kesiapan mahasiswa dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berwawasan global.
“Kami ingin agar para dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa memiliki kesiapan penuh untuk bertransformasi menjadi pendidik global. Gerakan ini kami rancang untuk mendukung program Kemendikdasmen dan Kemendikti agar kualitas pendidikan nasional meningkat pesat,” kata Ali.
Ali menilai peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi perhatian bersama. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar untuk kembali menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam bidang pendidikan.
Ia mencontohkan hubungan pendidikan Indonesia dengan sejumlah negara tetangga yang pada masa lalu banyak menjadikan Indonesia sebagai salah satu rujukan.
Karena itu, transformasi pendidikan Islam dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk meningkatkan daya saing pendidikan nasional.
“Dulu negara tetangga seperti Malaysia belajar dari Indonesia. Sekarang saatnya kita balikkan keadaan tersebut, dimulai dari transformasi pendidikan Islam,” ujarnya.
Ali mengatakan, ke depan bukan tidak mungkin semakin banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang memiliki standar internasional serta menjalin kerja sama langsung dengan institusi pendidikan dunia.
“Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan bermunculan pesantren internasional dan global yang bekerja sama langsung dengan Cambridge maupun institusi di China,” tambah Ali, yang merupakan lulusan UIN Syarif Hidayatullah serta pernah menempuh pendidikan di Madinah dan Malaysia.
Siapkan Education Expo 2027
Sebagai bagian dari agenda internasionalisasi pendidikan, KOPIN juga menyiapkan pameran pendidikan internasional atau Education Expo yang direncanakan berlangsung pada 21–22 Agustus 2027.
Kegiatan tersebut akan melibatkan sejumlah negara mitra, antara lain Arab Saudi, Malaysia, dan Singapura. Sejumlah perwakilan institusi pendidikan luar negeri juga disebut telah melihat langsung kesiapan KOPIN untuk membangun kolaborasi internasional.
Dari sisi kelembagaan, KOPIN menyatakan telah mendapatkan dukungan atau endorsement dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). KOPIN juga terus membangun kemitraan dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), serta Kementerian Luar Negeri.
Ali berharap penguatan jaringan tersebut dapat membuka lebih banyak peluang bagi lembaga pendidikan Islam Indonesia untuk melakukan pertukaran pengetahuan, benchmarking, hingga kerja sama pendidikan dengan institusi global.
“Kami optimistis pendidikan Islam Indonesia mampu bertransformasi dan menjadi salah satu kekuatan pendidikan berkualitas di dunia. Ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
