JAKARTA — Lembaga Media Survei Nasional (Median) mencatat Presiden Prabowo Subianto masih menempati posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon presiden untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang dengan tingkat keterpilihan sebesar 32,4 persen.
Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan elektabilitas Prabowo masih unggul dibandingkan sejumlah tokoh nasional yang masuk dalam simulasi survei.
“Prabowo Subianto masih unggul kurang lebih di angka 32,4 persen,” kata Rico saat memaparkan hasil survei Median.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo berada di posisi pertama, disusul Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 20,6 persen. Sementara itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada sangat tipis di bawah Dedi dengan tingkat elektabilitas 20,5 persen.
Sejumlah nama lain, seperti Ganjar Pranowo dan Erick Thohir, berada di posisi berikutnya dengan tingkat elektabilitas satu digit.
Survei Median dilaksanakan pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 dengan melibatkan sekitar 1.212 responden. Wawancara dilakukan secara tatap muka dan responden tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Gibran Teratas dalam Bursa Cawapres
Selain simulasi calon presiden, Median turut mengukur elektabilitas sejumlah tokoh yang berpotensi masuk dalam bursa calon wakil presiden.
Hasilnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menempati posisi teratas dengan elektabilitas 20,1 persen.
Gibran berada di atas sejumlah nama lain yang masuk dalam simulasi, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Dedi Mulyadi.
Temuan tersebut menunjukkan Gibran masih memiliki tingkat keterpilihan yang relatif tinggi ketika ditempatkan dalam simulasi calon wakil presiden.
Kepercayaan terhadap Lembaga Kepresidenan Sekitar 70 Persen
Median juga memotret tingkat kepercayaan publik terhadap sejumlah lembaga negara. Dalam survei tersebut, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga kepresidenan berada di kisaran 70 persen.
Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan tingkat kepercayaan publik terhadap sejumlah institusi lain, termasuk pemerintah provinsi, DPR, dan KPK.
Median juga menemukan adanya keterkaitan antara tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah dengan persepsi publik terhadap sejumlah program unggulan pemerintah.
Tiga program yang menjadi perhatian dalam survei tersebut antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Publik Minta MBG Dilanjutkan atau Dievaluasi
Dalam survei mengenai keberlanjutan program MBG, sebanyak 36 persen responden menginginkan program tersebut terus dilanjutkan. Sementara 34 persen responden lainnya meminta MBG dievaluasi terlebih dahulu sebelum diteruskan.
Dukungan terhadap program MBG antara lain muncul karena masyarakat menilai program tersebut memberikan manfaat ekonomi, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak usia sekolah.
Program tersebut dianggap dapat membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga untuk kebutuhan makan anak di sekolah. Dengan berkurangnya pengeluaran tersebut, sebagian anggaran rumah tangga dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk ditabung.
Selain manfaat bagi keluarga, MBG juga dinilai memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah.
Meski pelaksanaannya sempat diwarnai kontroversi dan dugaan penyelewengan pada tingkat manajerial, masyarakat dinilai masih melihat manfaat dari program tersebut.
Langkah penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran serta pergantian pimpinan program juga disebut mendapat respons positif dari masyarakat.
Temuan Median tersebut menunjukkan bahwa program MBG masih memperoleh dukungan publik yang relatif kuat. Namun, proporsi responden yang menginginkan evaluasi terlebih dahulu juga cukup besar, sehingga keberlanjutan program dinilai tetap perlu disertai pembenahan dan pengawasan.