Jakarta – Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) mendorong lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi memanfaatkan peluang kerja di sektor transportasi luar negeri melalui program SMK Go Global.
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KemenP2MI Dwi Setiawan Susanto mengatakan sektor transportasi menjadi salah satu bidang yang memiliki kebutuhan tenaga kerja cukup besar di sejumlah negara.
Menurut Dwi, peluang tersebut mencakup berbagai jenis pekerjaan, tidak hanya profesi pengemudi, tetapi juga tenaga handling di bandara dan pelabuhan, operasional stasiun kereta api, hingga teknisi yang mendukung pembangunan infrastruktur transportasi.
“Kerja ke luar negeri itu harus dilakukan secara aman dan prosedural. Dokumen-dokumen harus dilengkapi dan terdaftar dalam sistem kami, yaitu SISKOP2MI secara online,” ujar Dwi saat menghadiri kegiatan Job Expo dan Kuliah Umum di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Ia mengatakan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga harus mempersiapkan kompetensi sebelum mengikuti proses penempatan kerja di luar negeri.
Kompetensi tersebut meliputi kemampuan bahasa negara tujuan, keterampilan teknis sesuai bidang pekerjaan, sertifikasi, serta sikap mental dan kedisiplinan.
“Kompetensi calon pekerja juga harus disiapkan, baik bahasa, keahlian teknis, maupun sikap mental dan kedisiplinan,” katanya.
Dwi menjelaskan pemerintah melalui KemenP2MI terus mendorong program SMK Go Global untuk memperluas akses lulusan pendidikan vokasi Indonesia terhadap pasar kerja internasional.
Program tersebut juga didukung dengan pembentukan Migrant Center yang diharapkan dapat menjadi wadah informasi dan pendampingan bagi calon PMI, termasuk dalam mempersiapkan kompetensi dan memahami prosedur penempatan kerja.
Menurut dia, pemerintah juga memberikan dukungan terhadap pelatihan, sertifikasi, dan peningkatan keterampilan atau upskilling calon tenaga kerja yang akan ditempatkan ke luar negeri.
Pelatihan tersebut dapat dilakukan selama sekitar satu hingga dua bulan, tergantung kebutuhan dan jenis pekerjaan yang akan dijalani calon PMI.
Peluang dari Penuaan Populasi
Dwi mengatakan peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia semakin terbuka seiring perubahan demografi di sejumlah negara tujuan.
Jepang dan Jerman, misalnya, menghadapi fenomena aging population atau penuaan populasi yang berdampak terhadap berkurangnya jumlah penduduk usia produktif.
Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dari luar negeri untuk mengisi sejumlah sektor yang mengalami kekurangan tenaga kerja.
“Negara-negara tujuan seperti Jepang dan Jerman saat ini sedang mengalami aging population sehingga kekurangan tenaga kerja produktif. Ini menjadi peluang besar bagi lulusan kita untuk mengisi kebutuhan tersebut dengan keterampilan yang sesuai,” ujar Dwi.
Karena itu, dia menilai lulusan SMK dan perguruan tinggi perlu mempersiapkan diri sejak awal agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
Khusus sektor transportasi, kebutuhan tenaga kerja dinilai cukup luas karena perkembangan infrastruktur dan mobilitas masyarakat di berbagai negara membutuhkan tenaga profesional dengan keterampilan spesifik.
“Jadi bukan hanya driver. Ada juga tenaga handling di bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, maupun teknisi yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur,” katanya.
Wajib Ikuti Jalur Resmi
Dwi menegaskan calon PMI harus memastikan seluruh proses keberangkatan dilakukan melalui jalur resmi pemerintah.
Ia menyebut calon pekerja harus memenuhi sejumlah persyaratan umum, antara lain berusia minimal 18 tahun, memiliki kemampuan bahasa dan sertifikasi teknis yang relevan dengan pekerjaan yang dituju, serta memperoleh izin dari orang tua.
Selain memenuhi persyaratan tersebut, calon PMI juga harus memahami hak dan kewajibannya selama menjalani proses penempatan maupun ketika bekerja di negara tujuan.
Dwi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja ke luar negeri yang disebarkan melalui media sosial, khususnya tawaran yang menjanjikan keberangkatan dalam waktu singkat tanpa proses administrasi yang jelas.
“Hati-hati dengan informasi di media sosial yang mengiming-imingi langsung berangkat. Pastikan selalu mengikuti prosedur resmi dan terintegrasi melalui sistem SISKOP2MI agar keamanan dan perlindungan selama bekerja di luar negeri tetap terjamin,” tegasnya.
KemenP2MI berharap penguatan pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi, dan akses informasi penempatan dapat semakin meningkatkan kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Melalui program SMK Go Global, peluang kerja di luar negeri diharapkan tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat global.