JAKARTA – Perkembangan teknologi digital mendorong industri penyiaran, termasuk radio, untuk beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Kehadiran platform streaming dan media sosial dinilai tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga membuka peluang bagi radio untuk memperluas jangkauan sekaligus membangun interaksi yang lebih dekat dengan pendengar.
Hal tersebut disampaikan Direktur Iswara, Tika Indria, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Bebas Namun Terbatas: Menjaga Kualitas dan Etika Konten di Era Streaming & Media Sosial” di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Tika mengatakan perkembangan teknologi digital membuat industri radio tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola penyiaran konvensional. Pelaku industri perlu memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperkuat distribusi konten sekaligus mendukung kegiatan bisnis.
“Kita punya tagline Suara Warga Indonesia. Terima kasih banget dengan adanya sosialisasi ini. Sebenarnya kita dari industri radio itu sudah harus in-press digital, sejujurnya kita berjualan juga harus dibantu digital,” ujar Tika kepada awak media.
Menurut dia, transformasi digital memberikan ruang bagi radio untuk mengembangkan cara baru dalam menyajikan konten dan memasarkan program kepada masyarakat.
“Harus jualan digital juga, bukan hanya sekadar model yang seperti ini,” katanya.
Tika menilai salah satu perkembangan yang menarik adalah kemampuan radio menggabungkan siaran konvensional dengan konten visual melalui berbagai platform digital.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak hanya dapat mendengarkan suara penyiar, tetapi juga melihat aktivitas penyiar saat menjalankan program dari studio.
“Ini juga harus happy, oh ini toh penyiarnya, oh ini on the vision, bahwa mereka sedang ada di studio,” ujarnya.
Selain memperluas jangkauan, kehadiran streaming dan media sosial juga membuat komunikasi antara penyiar dan pendengar menjadi lebih interaktif. Pendengar dapat memberikan komentar, menyampaikan pertanyaan, hingga berinteraksi secara langsung selama program berlangsung.
“Dengan adanya streaming juga di TikTok, bisa tanya jawab, komen-komen antara penyiar dengan penyiar seperti itu,” jelasnya.
Menurut Tika, perubahan tersebut menunjukkan bahwa industri radio tengah memasuki fase baru. Kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting agar radio tetap relevan di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi dan hiburan.
Namun, ia mengingatkan transformasi digital tetap harus diiringi dengan perhatian terhadap kualitas dan etika konten. Kecepatan distribusi informasi melalui media sosial, kata dia, perlu dibarengi dengan tanggung jawab agar konten yang disampaikan kepada publik tetap berkualitas dan memberikan manfaat.
FGD tersebut menjadi ruang diskusi bagi pelaku industri penyiaran, regulator, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membahas tantangan penyiaran di tengah berkembangnya platform digital.
Pembahasan mengenai kebebasan dan batasan dalam produksi serta distribusi konten menjadi semakin relevan karena radio kini tidak lagi hanya hadir melalui frekuensi siaran, tetapi juga melalui platform streaming dan media sosial.
Di tengah pergeseran tersebut, industri radio dituntut tidak sekadar bertahan, tetapi mampu berinovasi dengan mengintegrasikan siaran radio, streaming, dan media sosial. Strategi tersebut dinilai dapat membantu radio mempertahankan relevansinya sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan generasi pendengar baru.
Transformasi digital, dengan demikian, bukan berarti menghilangkan karakter radio sebagai media suara. Sebaliknya, teknologi dapat memperluas ruang bagi radio untuk hadir dalam format yang lebih interaktif dan visual, tanpa mengabaikan kualitas serta etika dalam penyajian konten kepada masyarakat.
