JAKARTA – PT Armindo Prima menegaskan komitmennya mendukung percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya energi panas bumi, di Indonesia. Komitmen tersebut disampaikan dalam ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (19/8/2026).
Technical Director PT Armindo Prima, Hikmat Nugraha, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan panas bumi sebagai salah satu sumber energi strategis nasional. Indonesia diketahui memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia, sehingga pemanfaatannya secara optimal dinilai dapat memperkuat ketahanan sekaligus kemandirian energi nasional.
Menurut Hikmat, industri panas bumi di Indonesia bukan merupakan sektor baru. Pengembangannya telah memiliki sejarah panjang sejak era kolonial pada dekade 1940-an. Bahkan, sejumlah sumur eksplorasi yang dibangun pada masa awal pengembangan panas bumi masih menunjukkan aktivitas hingga saat ini.
“Indonesia memiliki sejarah geothermal yang sangat panjang. Potensinya besar dan sudah dikembangkan sejak puluhan tahun lalu. Tantangannya sekarang adalah bagaimana potensi tersebut dapat dioptimalkan dengan teknologi dan tata kelola yang semakin efisien,” ujar Hikmat.
Bawa Teknologi Internasional
Dalam keikutsertaannya pada IIGCE 2026, PT Armindo Prima memperkenalkan dua teknologi dari mitra internasional yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pembangkit panas bumi.
Teknologi pertama berasal dari Calibrate, Filipina, yang menawarkan sistem monitoring modern untuk mendukung optimalisasi operasional proyek geothermal. Kehadiran teknologi tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan industri panas bumi Indonesia yang membutuhkan pemantauan kondisi operasi secara akurat dan berkelanjutan.
Filipina sendiri merupakan salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi.
Sementara itu, teknologi kedua berasal dari Enogia, Prancis. Teknologi tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan produksi listrik dari sumur-sumur panas bumi yang memiliki kinerja rendah atau low-performing wells.
Sumur dengan tingkat produksi rendah yang sebelumnya berpotensi tidak lagi dimanfaatkan dapat dioptimalkan sehingga menghasilkan tambahan energi listrik.
“Teknologi dari Enogia memungkinkan kita melihat kembali potensi dari sumur-sumur yang performanya rendah. Dengan teknologi yang tepat, sumber daya yang sebelumnya kurang optimal masih dapat memberikan kontribusi terhadap produksi listrik,” jelas Hikmat.
Seluruh listrik yang dihasilkan dari proyek-proyek panas bumi tersebut disalurkan kepada PT PLN (Persero) untuk mendukung kebutuhan energi listrik nasional.
Kurangi Ketergantungan Energi Fosil
Hikmat menilai optimalisasi panas bumi memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, terutama pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Sebagai sumber energi yang berasal dari panas bumi, geothermal memiliki karakteristik sebagai energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Pengembangan sektor tersebut sekaligus dapat mendukung agenda transisi energi dan pengurangan emisi.
“Kalau geothermal dapat dimanfaatkan secara maksimal, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, khususnya diesel, dapat dikurangi. Energinya sudah tersedia di dalam bumi Indonesia dan tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya,” kata Hikmat.
Minta Kepastian Regulasi dan Stimulus
Meski memiliki prospek besar, Hikmat mengakui pengembangan panas bumi menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebutuhan investasi yang besar dan karakter proyek yang membutuhkan waktu panjang.
Karena itu, dia menilai kesinambungan regulasi, insentif, dan stimulus pemerintah menjadi faktor penting untuk menciptakan kepastian bagi pelaku usaha.
Hikmat menyambut positif kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan.
Menurut dia, dukungan pemerintah tidak hanya dibutuhkan pada tahap pengembangan teknologi, tetapi juga dalam menciptakan iklim investasi yang menarik dan kompetitif.
“Kami berharap kehadiran pemerintah melalui insentif dan stimulus tambahan dapat mempercepat akselerasi pengembangan geothermal. Energi ini sudah ada di dalam bumi kita sendiri, dan optimalisasinya akan menjadikan Indonesia lebih mandiri secara energi,” ujarnya.
PT Armindo Prima optimistis pengembangan industri panas bumi ke depan akan semakin kuat melalui kolaborasi antara teknologi global, kemampuan industri dalam negeri, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar panas bumi tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga berkembang menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan sistem energi Indonesia yang lebih bersih, berkelanjutan, dan mandiri.
