JAKARTA – Organisasi dakwah Ikhwanul Muballighin memperkuat konsolidasi organisasi di usia 25 tahun melalui Silaturahmi Nasional (Silatnas) sekaligus Kongres ke-V yang digelar di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Mengawal NKRI, Merawat Tradisi, Menjunjung Negeri” tersebut diikuti ulama, kiai, mubalig, pengurus, serta delegasi Ikhwanul Muballighin dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia Pelaksana Silatnas dan Kongres ke-V Ikhwanul Muballighin, KH Abdurahman Bustomi, MA, mengatakan forum tersebut menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat kontribusi organisasi bagi bangsa dan negara.
“Kita hadir di sini sebagai saudara untuk mempererat tali persaudaraan (ukhuwah) dengan cara yang mudah, sejuk, dan dilapangkan oleh Allah SWT. Harapan kita bersama, Ikhwanul Muballighin dapat terus memberikan kontribusi yang nyata dan bermakna bagi bangsa dan negara tercinta,”
ujar Abdurahman dalam sambutannya.
Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh nasional, pimpinan lembaga, ulama, serta delegasi mubalig dari berbagai wilayah yang mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya anggota DPD RI sekaligus Pembina Ikhwanul Muballighin Dr Bustami Zainuddin, Kepala Biro Perencanaan Polda Metro Jaya Brigjen Pol Teguh, Staf Ahli Menko Pangan Dr Priyadi Samsoeri, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta Dr H Adib yang mewakili Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar, MA.
Hadir pula sejumlah ulama, antara lain KH Muhyiddin Ishaq, Habib Umar, Habib Abdullah Assegaf, serta para kiai dan asatiz lainnya.
Delegasi Kongres ke-V datang dari berbagai daerah, mulai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh hingga Makassar, Sulawesi Selatan.
Perjalanan 25 Tahun Abdurahman mengatakan perjalanan Ikhwanul Muballighin selama sekitar 25 tahun merupakan bagian penting dari perkembangan organisasi dakwah tersebut.
Menurut dia, Ikhwanul Muballighin dirintis oleh sejumlah alim ulama di Jawa Tengah, salah satunya almarhum KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen.
Selama perjalanan organisasi, Ikhwanul Muballighin membawa misi dakwah yang sejuk, merawat tradisi keislaman, serta turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Ini menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk terus menjaga ukhuwah, tradisi keislaman, serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara,” katanya.
Ia berharap momentum Kongres ke-V tidak hanya menjadi forum pergantian atau penyusunan kepengurusan, tetapi juga menghasilkan arah kebijakan organisasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Rangkaian Silatnas dan Kongres ke-V diawali dengan pembacaan salawat dan laporan panitia. Acara kemudian dilanjutkan dengan musyawarah kongres untuk membahas arah kebijakan serta kepengurusan Ikhwanul Muballighin ke depan.
Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan dapat memperkuat soliditas dan konsolidasi organisasi, sekaligus merumuskan langkah strategis Ikhwanul Muballighin dalam menjalankan peran dakwah dan memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Dengan usia organisasi yang telah mencapai sekitar seperempat abad, Ikhwanul Muballighin menempatkan penguatan jaringan di berbagai daerah, pemeliharaan tradisi keislaman, serta kontribusi kebangsaan sebagai bagian dari agenda organisasi ke depan
