JAKARTA — Kepemimpinan di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN) tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial. Pemimpin dituntut mampu membaca perubahan, mengeksekusi strategi, sekaligus membangun organisasi yang adaptif dan berorientasi pada hasil.
Hal tersebut disampaikan Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU, ASEAN Eng., dalam Leadership Forum yang digelar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Se-Jabodetabek bertajuk “Executive Insights: Menjadi Pemimpin BUMN yang Berintegritas, Adaptif, dan Berdaya Saing”, Sabtu (8/8/2026), di Jakarta.
Dalam forum tersebut, Abdul Rivai Ras membagikan pengalaman kepemimpinannya selama lebih dari tiga dekade, termasuk 32 tahun berkarier di lingkungan TNI Angkatan Laut serta penugasannya di sejumlah kementerian dan lembaga negara.
Ia pernah berkecimpung di Kementerian Pertahanan, Sekretariat Negara, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pengalaman di bidang operasional, perumusan kebijakan strategis, hingga dunia akademik menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk perspektif kepemimpinannya.
Menurut Abdul Rivai, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata kemampuan mengelola organisasi.
“Kepemimpinan itu bukan sekadar manajemen, tetapi bagaimana kita menginspirasi perubahan, meningkatkan hasil, dan memotivasi orang lain. Leadership adalah talenta yang bisa diasah dan ditempa melalui pengalaman, bukan hanya dari pendidikan formal,” ujarnya.
Ketahanan Pangan Jadi Bagian dari Ketahanan Nasional
Berbicara mengenai peran dan amanahnya di lingkungan BUMN atau korporasi, termasuk di PTPN I, Abdul Rivai menyoroti pentingnya memperkuat sektor ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Ia menilai persoalan pangan tidak dapat dilihat semata dari perspektif ekonomi dan bisnis. Pangan memiliki keterkaitan erat dengan sistem logistik serta ketahanan nasional.
Menurut dia, negara dengan ketahanan pangan yang kuat memiliki fondasi lebih kokoh dalam menghadapi berbagai tekanan, termasuk gejolak ekonomi dan geopolitik.
“Dalam istilah militer, logistics cannot win a battle, but without logistics, a battle cannot be won,” katanya.
Abdul Rivai menegaskan, pangan merupakan bagian dari logistik strategis yang memiliki dimensi geopolitik sekaligus menjadi fondasi stabilitas nasional.
“Pangan adalah logistik yang menjadi senjata geopolitik dan fondasi stabilitas nasional. Jika ketahanan pangan terganggu, dampaknya bisa memicu inflasi hingga gejolak sosial,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengelolaan sektor pangan dilakukan dengan pendekatan yang lebih strategis, terintegrasi, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Tiga Kunci Pemimpin Korporasi
Dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompleks, Abdul Rivai juga membagikan sejumlah prinsip yang dinilai penting bagi calon pemimpin korporasi, khususnya generasi muda.
Pertama, kemampuan memahami strategi. Pemimpin harus mampu menciptakan visi mengenai masa depan perusahaan dan menerjemahkannya menjadi strategi yang dapat menjaga keberlanjutan organisasi.
Kedua, kekuatan eksekusi. Strategi yang baik tidak akan memberikan hasil tanpa organisasi dan sistem kerja yang mampu menjalankannya secara efektif.
Ketiga, keberanian mengambil peluang. Menurut Abdul Rivai, generasi muda tidak harus selalu masuk ke arena dengan tingkat persaingan paling tinggi. Justru, keberanian membaca ruang yang belum terlalu padat dapat membuka peluang keberhasilan yang lebih besar.
Ia menilai kemampuan membaca momentum dan menentukan arena kompetisi menjadi bagian penting dari kepemimpinan modern.
Forum Leadership IKA Unhas Se-Jabodetabek tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat jejaring alumni dalam mempersiapkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan dunia usaha dan pemerintahan.
IKA Unhas Se-Jabodetabek berharap forum tersebut dapat mendorong lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga adaptif, berani mengambil keputusan, serta memiliki wawasan strategis dalam mendorong kemajuan BUMN dan institusi publik.
Dengan pengalaman lintas sektor yang dimilikinya, Abdul Rivai Ras menekankan bahwa kepemimpinan pada akhirnya harus diukur dari kemampuan menghadirkan perubahan dan menghasilkan manfaat nyata bagi organisasi maupun bangsa.
